Sabtu, 04 Januari 2014

Teori Trait & Factor

Pengertian Teori Trait & Factor
Trait adalah suatu ciri yang khas bagi seseorang dalam berpikir, berperasaan, dan berperilaku seperti intelegensi (berpikir), iba hati (berperasaan), dan agresif (berprilaku). Jadi, Teori Trait & Factor adalah suatu teori yang berusaha mencocokkan atau menyesuaikan individu dengan suatu  okupasi atau karir tertentu dengan melakukan tes kepribadian atau tes psikologis sehingga seseorang akan mendapatkan okupasi atau pekerjaan sesuai dengan kepribadian yang dimilikinya.
Konsep Teori Trait & Factor
Menurut teori ini kepribadian merupakan sistem atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya seperti kecakapan, minat, sikap dan tempramen. Beberapa tokoh yang sering dikenal dalam teori trait and factor adalah Walter Bigham, John Darley, Donald G.Paterson dan E.G.Williamson.
Dari beberapa pelopor pengembangan teori Trait & factor ini yang paling terkenal ialah E.G.Williamson, teori ini juga dikenal dengan directive counseling atau Counseling-Centered Counseling , karena konselor secara sadar mengadakan strukturalisasi dalam proses konseling dan berusaha mempengaruhi arah perkembangan konseli demi kebaikan konseling sendiri. Teori ini menilai tinggi kemampuan manusia untuk berpikir rasional dan memandang masalah konseli sebagai problem yang harus dipecahkan dengan menggunakan kemampuan itu (problem-solving approach).
Dalam segi teoritis dan dalam segi pendekatannya,teori ini bersumber pada gerakan bimbingan jabatan, sebagaimana dikembangkan di Amerika Serikat  sejak awal abad yang ke-20.
Dalam bukunya yang berjudul Vocation Counseling (1965) Williamson menguraikan sejarah perkembangan bimbingan jabatan dan proses lahirnya konseling jabatan yang berpegang pada teori Trait-Factor.Pada akhir abad yang ke-19 Frank Parsons mulai mencari suatu cara untuk membantu orang-orang muda dalam memilih suatu bidang pekerjaan yang sesuai dengan potensi mereka, sehingga cukup berhasil di bidang pekerjaan itu. Dalam bukunya Choosing a Vocation (1909), Frank Parsons menunjukkan tiga langkah yang harus diikuti dalam memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki,yaitu :pertama, pemahaman diri yang jelas mengenai kemampuan otak, bakat, minat, berbagai kelebihan dan kelemahan, serta ciri-ciri yang lain dalam dirinya. Kedua, pengetahuan tentang semua persyaratan yang harus dipenuhi supaya dapat mencapai sukses dalam berbagai bidang pekerjaan,serta tentang balas jasa dan kesempatan untuk maju dalam semua bidang pekerjaan itu. Ketiga, berpikir secara rasional mengenai hubungan antara kedua kelompok diatas. Jadi, pada langkah pertam, individu menggunakan analisis diri, pada langkah yang kedua individu memanfaatkan informasi jabatan (vocational information) yang ia peroleh serta pada langkah yang ketiga, individu dapat menerapkan kemampuan untuk berpikir rasional agar dapat menemukan kecocokan antara ciri-ciri kepribadian yang dimiliki mempunyai relevansi terhadap kesuksesan atau kegagalan suatu pekerjaan / jabatan dengan tuntutan klasifikasi dan kesempatan yang terkandung dalam suatu pekerjaan atau jabatan.Dengan demikian, individu tidak asal mencari pekerjaan semata (the hunt of a vocation).
Namun prosedur yang digunakan oleh Frank Parsons untuk menemukan fakta dalam rangka langkah kerja, pada langkah pertama dan kedua ternyata tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan dari segi analisis psikologi dan sosial secara ilmiah.Tekanan pada studi psikologi terhadap masing-masing orang dalam suatu klinik psikologis,dengan menggunakan alat-alat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,menjadi ciri khas dari aliran konseling yang kemudian disebut Konseling Klinikal .Corak konseling yang berpegang pada teori Trait-Factor  berkembang dalam rangka konsepsi aliran Konseling Klinikal.Oleh karena itu,pendekatan konseling Trait-Factor dalam beberapa buku dinamakan Konseling Klinikal.
Alat yang digunakan untuk mempelajari keadaan seseorang sehingga menghasilkan suatu analisis bagi masing-masing pribadi adalah tes-tes psikologis yang mula-mula digunakan oleh para ahli psikologi industri dalam rangka seleksi untuk bidang-bidang pekerjaan tertentu. Berdasarkan identifikasi berbagai kemampuan yang dimiliki atau tidak dimiliki seseorang setelah dites dan bedasarkan penelitian terhadap tuntutan pekerjaan di lapangan untuk mengetahui kemampuan mana yang harus dimilki seseorang supaya berhasil dalam suatu jenis pekerjaan tertentu. Ahli-ahli psikologi industri itu menyusun tabel-tabel prakiraan sukses atau gagalnya seorang aplikan dalam jenis pekerjaan tertentu.Cara berfikir yang demikian mulai diikuti juga oleh konselor jabatan dengan menekankan penggunaan tes-tes psikologis sebagai alat untuk mengidentifikasi ciri-ciri kepribadian seseorang yang mempunyai relevansi terhadap suatu jabatan atau pekerjaan.Dalam hal ini aliran konseling jabatan berpegang pada teori kepribadian yang dikenal dengan nama teori Trait-factor.
Teori Trait –Factor  adalah pandangan yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang dapat dilukiskan dengan mengidentifikasikan sejumlah ciri,sejauh tampak dari hasil testing psikologis yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian itu. Konseling Trait-Factor berpegang pada pandangan yang sama dan menggunakan tes-tes psikologis untuk menganalisis seseorang mengenai ciri-ciri kepribadian tertentu,yang diketahui mempunyai relevansi terhadap keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam memangku jabatan dan mengikuti suatu program studi. Dalam hal ini program studi di instutusi pendidikan juga dipandang sebagai “jabatan”, sehingga akan diikuti prosedur yang sama terhadap pilihan bidang pekerjaan dan bidang studi.Dengan demikian,aliran konseling jabatan telah memperluas diri menjadi Konseling Jabatan-Akademik,yang dewasa ini sering disebut Konseling Karier.
Ada beberapa asumsi pokok yang mendasari teori konseling trait and factor, adalah:
1.      Kecapakan dan kemampuan individu bersifat unik dan beragam, maka tes objektif dapat digunakan untuk mengindentifikasi karakteristik tersebut.
2.      Pola-pola kepribadian dan minat berkorelasi dengan perilaku kerja tertentu.
3.      Kurikulum sekolah yang berbeda akan menuntut kapasitas dan minat yang berbeda.
4.      Baik siswa maupun konselor hendaknya mendiagnosa potensi siswa untuk mengawali penempatan dalam belajar dan pekerjaan.
5.      Setiap orang memiliki kecakapan dan keinginan untuk mengindentifikasi secara kognitif kemampuan sendiri.
Kekuatan teori ini adalah mengungkapkan data tentang potensi yang dimiliki individu dengan berbagai instrumen tes, sehingga data yang didapat cukup valid. Individu juga akan memperoleh berbagai informasi tentang pekerjaan yang dibutuhkannya.
Kelemahan teori ini adalah pilihan pekerjaan yang diberikan pada individu hanya satu, sehingga akan timbul kesulitan pada individu tersebut seandainya pekerjaan tersebut tidak diperoleh.

Aplikasi Teori Trait & Factor dalam Bimbingan dan Konseling
Perkembangan karir merupakan proses yang bermula dari masa anak-anak sampai lanjut usia. Dalam setiap tahap perkembangan karir, setiap individu memiliki tingkat kematangan yang bersamaan dengan persiapan karir. Karena itu pada setiap tahap perkembangan karirnya, setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan karir. Pada usia remaja tugas perkembangan karir yang penting adalah mempersiapkan diri memasuki karir. Dalam tugas itu remaja sudah mulai melakukan pemilihan dan perencanaan karir. Namun masih terdapat beberapa persoalan yang dialami remaja dalam menentukan karirnya. Di sekolah, tugas perkembangan karir remaja juga merupakan bagian pelayanan bimbingan konseling. Sehubungan dengan persoalan perkembangan karir remaja, keberadaan bimbingan konseling sekolah sangat tepat untuk membantu siswa dalam memilih dan merencanakan karirnya.
Berdasarkan persoalan karir yang dialami oleh remaja, teori trait & factor dapat digunakan terhadap semua kasus yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut: termasuk ragam konseling jabatan atau konseling akademik (konseling karier), di mana konseli menghadapi keharusan untuk memilih di antara beberapa alternatif, konseli telah menyelesaikan minimal jenjang pendidikan SMP dan sudah mulai tampak stabil dalam berbagai ciri kepribadian, konseli tidak menunjukkan kelemahan serius dalam beberapa segi kepribadiannya, misalnya selalu ragu-ragu dalam keputusan tentang apa pun juga atau sangat dikuasai oleh alam perasaannya sendiri. metodenya adalah melaui tenkik-teknik sebagai berikut diantaranya adalah wawancara, prosedur interpretasi tes dan menggunakan informasi jabatan/pekerjaan yang selanjutnya akan disusun untuk membantu menyelesaikan masalah konseli, dan membantu dalam membuat keputusan karir
1.        Teknik wawancara
a.    Establishing rappot (menciptakan hubungan baik)
b.    Cultivating self understanding (mengolah pemahaman diri)
c.    Advising or planning a program of action (mempertimbangkan atau merencanakan program pelaksanaan
d.   Carrying out the plan (pelaksanaan rencana)
e.    Referal (pengalih tangan)
Prinsip wawancara konseling trait and factor :
a.       Jangan menceramahi atau mematahkan semangat konseli
b.      Gunakan bahasa yang mudah dipahami dan batasilah informasi yang akan diberikan pada konseli untuk mencari dan berupaya dengan kemampuan yang dimilikinya
c.       Yakinkan bahwa kita tahu tentang apa yang konseli ingin bicarakan sebelum memberikan informasi atau jawaban
d.      Yakinkan bahwa sikap konseli bisa dijadikan pegangan untuk membantu pemecahan masalah
2.        Interpretasi tes
a.    Mengarahkan atau menasehatkan (direct advising)
b.    Persuasi (persuasion)
c.    Penjelasan (explanation)
3.        Informasi pekerjaan (Brayfield: 1950)
a.    Informasi
b.    Penyesuaian kembali
c.    Motivasi
Exploration (Eksplorasi). Konselor menggunakan informasi pekerjaan untuk membantu konseli membuat penelitian yang baik terhadap dunia kerja dari bidang pekerjaan tersebut.
Assurance (Keyakinan). Konselor menggunakan informasi pekerjaan untuk meyakinkan konseli pilihan pekerjaannya cocok atau menghilangkan yang tidak cocok.
Evaluation (Evaluasi). Konselor menggunakan informasi pekerjaan untuk memeriksa keyakinan dan kesinambungan pengetahuan dari konseli tersebut dan pemahamannya dari pekerjaan tersebut atau sejenis.
Startle (mengejutkan). Konselor menggunakan informasi pekerjaan Untuk memeriksa apakah konseli menunjukkan tanda-tanda yakin atau tidak setelah melalui beberapa hal.
Trait and Factor memiliki tujuan untuk mengajak siswa (konseling) untuk berfikir mengenai dirinya serta mampu mengembangkan cara-cara yang dilakukan agar dapat keluar dari masalah yang dihadapinya. TF dimaksudkan agar siswa mengalami:
1.      Self-Clarification / Klarifikasi diri
  1. Self-Understanding / Pemahaman diri
  2. Self-Acceptance / Penerimaan diri





BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Ø  Teori Trait & Factor adalah suatu teori yang berusaha mencocokkan atau menyesuaikan individu dengan suatu  okupasi atau karir tertentu dengan melakukan tes kepribadian atau tes psikologis sehingga seseorang akan mendapatkan okupasi atau pekerjaan sesuai dengan kepribadian yang dimilikinya.
Ø  Beberapa tokoh yang sering dikenal dalam teori trait and factor adalah Walter Bigham, John Darley, Donald G.Paterson dan E.G.Williamson. Dari beberapa pelopor pengembangan teori Trait & factor ini yang paling terkenal ialah E.G.Williamson.
Ø  Menurut teori trait & factor, kepribadian merupakan sistem atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya seperti kecakapan, minat, sikap dan tempramen. Kekuatan teori ini adalah mengungkapkan data tentang potensi yang dimiliki individu dengan berbagai instrumen tes, sehingga data yang didapat cukup valid. Individu juga akan memperoleh berbagai informasi tentang pekerjaan yang dibutuhkannya. Kelemahan teori ini adalah pilihan pekerjaan yang diberikan pada individu hanya satu, sehingga akan timbul kesulitan pada individu tersebut seandainya pekerjaan tersebut tidak diperoleh.

Ø  Berdasarkan persoalan karir yang dialami oleh remaja, teori trait & factor dapat digunakan terhadap semua kasus yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut: termasuk ragam konseling jabatan atau konseling akademik (konseling karier), di mana konseli menghadapi keharusan untuk memilih di antara beberapa alternatif, konseli telah menyelesaikan minimal jenjang pendidikan SMP dan sudah mulai tampak stabil dalam berbagai ciri kepribadian, konseli tidak menunjukkan kelemahan serius dalam beberapa segi kepribadiannya, misalnya selalu ragu-ragu dalam keputusan tentang apa pun juga atau sangat dikuasai oleh alam perasaannya sendiri. metodenya adalah melaui tenkik-teknik sebagai berikut diantaranya adalah wawancara, prosedur interpretasi tes dan menggunakan informasi jabatan/pekerjaan yang selanjutnya akan disusun untuk membantu menyelesaikan masalah konseli, dan membantu dalam membuat keputusan karir

0 komentar:

Posting Komentar

 

Im Counselor Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template