Pengertian Teori Trait & Factor
Trait adalah suatu ciri yang khas
bagi seseorang dalam berpikir, berperasaan, dan berperilaku seperti intelegensi
(berpikir), iba hati (berperasaan), dan agresif (berprilaku). Jadi, Teori Trait
& Factor adalah suatu teori yang berusaha mencocokkan atau menyesuaikan
individu dengan suatu okupasi atau karir tertentu dengan melakukan tes
kepribadian atau tes psikologis sehingga seseorang akan mendapatkan okupasi
atau pekerjaan sesuai dengan kepribadian yang dimilikinya.
Konsep Teori Trait
& Factor
Menurut teori ini kepribadian
merupakan sistem atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya
seperti kecakapan, minat, sikap dan tempramen. Beberapa tokoh yang sering
dikenal dalam teori trait and factor adalah Walter Bigham, John Darley, Donald
G.Paterson dan E.G.Williamson.
Dari beberapa pelopor pengembangan
teori Trait & factor ini yang paling terkenal ialah E.G.Williamson, teori ini juga dikenal dengan directive
counseling atau Counseling-Centered
Counseling , karena konselor secara sadar mengadakan strukturalisasi dalam
proses konseling dan berusaha mempengaruhi arah perkembangan konseli demi
kebaikan konseling sendiri. Teori ini menilai tinggi kemampuan manusia untuk
berpikir rasional dan memandang masalah konseli sebagai problem yang harus
dipecahkan dengan menggunakan kemampuan itu (problem-solving approach).
Dalam segi teoritis dan dalam segi
pendekatannya,teori ini bersumber pada gerakan bimbingan jabatan, sebagaimana
dikembangkan di Amerika Serikat sejak
awal abad yang ke-20.
Dalam bukunya yang berjudul Vocation Counseling (1965) Williamson
menguraikan sejarah perkembangan bimbingan jabatan dan proses lahirnya
konseling jabatan yang berpegang pada teori Trait-Factor.Pada
akhir abad yang ke-19 Frank Parsons mulai mencari suatu cara untuk membantu
orang-orang muda dalam memilih suatu bidang pekerjaan yang sesuai dengan
potensi mereka, sehingga cukup berhasil di bidang pekerjaan itu. Dalam bukunya Choosing a Vocation (1909), Frank
Parsons menunjukkan tiga langkah yang harus diikuti dalam memilih suatu
pekerjaan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki,yaitu :pertama, pemahaman diri yang jelas mengenai kemampuan otak, bakat, minat,
berbagai kelebihan dan kelemahan, serta ciri-ciri yang lain dalam dirinya. Kedua, pengetahuan tentang semua persyaratan
yang harus dipenuhi supaya dapat mencapai sukses dalam berbagai bidang
pekerjaan,serta tentang balas jasa dan kesempatan untuk maju dalam semua bidang
pekerjaan itu. Ketiga, berpikir
secara rasional mengenai hubungan antara kedua kelompok diatas. Jadi, pada
langkah pertam, individu menggunakan analisis diri, pada langkah yang kedua individu
memanfaatkan informasi jabatan (vocational
information) yang ia peroleh serta pada langkah yang ketiga, individu dapat
menerapkan kemampuan untuk berpikir rasional agar dapat menemukan kecocokan
antara ciri-ciri kepribadian yang dimiliki mempunyai relevansi terhadap
kesuksesan atau kegagalan suatu pekerjaan / jabatan dengan tuntutan klasifikasi
dan kesempatan yang terkandung dalam suatu pekerjaan atau jabatan.Dengan
demikian, individu tidak asal mencari pekerjaan semata (the hunt of a vocation).
Namun prosedur yang digunakan oleh
Frank Parsons untuk menemukan fakta dalam rangka langkah kerja, pada langkah
pertama dan kedua ternyata tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan dari
segi analisis psikologi dan sosial secara ilmiah.Tekanan pada studi psikologi
terhadap masing-masing orang dalam suatu klinik psikologis,dengan menggunakan
alat-alat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,menjadi ciri khas dari
aliran konseling yang kemudian disebut Konseling
Klinikal .Corak konseling yang berpegang pada teori Trait-Factor berkembang
dalam rangka konsepsi aliran Konseling Klinikal.Oleh karena itu,pendekatan
konseling Trait-Factor dalam beberapa
buku dinamakan Konseling Klinikal.
Alat yang digunakan untuk
mempelajari keadaan seseorang sehingga menghasilkan suatu analisis bagi
masing-masing pribadi adalah tes-tes psikologis yang mula-mula digunakan oleh
para ahli psikologi industri dalam rangka seleksi untuk bidang-bidang pekerjaan
tertentu. Berdasarkan identifikasi berbagai kemampuan yang dimiliki atau tidak
dimiliki seseorang setelah dites dan bedasarkan penelitian terhadap tuntutan
pekerjaan di lapangan untuk mengetahui kemampuan mana yang harus dimilki
seseorang supaya berhasil dalam suatu jenis pekerjaan tertentu. Ahli-ahli
psikologi industri itu menyusun tabel-tabel prakiraan sukses atau gagalnya
seorang aplikan dalam jenis pekerjaan tertentu.Cara berfikir yang demikian
mulai diikuti juga oleh konselor jabatan dengan menekankan penggunaan tes-tes
psikologis sebagai alat untuk mengidentifikasi ciri-ciri kepribadian seseorang
yang mempunyai relevansi terhadap suatu jabatan atau pekerjaan.Dalam hal ini
aliran konseling jabatan berpegang pada teori kepribadian yang dikenal dengan
nama teori Trait-factor.
Teori Trait –Factor adalah
pandangan yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang dapat dilukiskan dengan
mengidentifikasikan sejumlah ciri,sejauh tampak dari hasil testing psikologis
yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian itu. Konseling Trait-Factor berpegang pada pandangan
yang sama dan menggunakan tes-tes psikologis untuk menganalisis seseorang
mengenai ciri-ciri kepribadian tertentu,yang diketahui mempunyai relevansi
terhadap keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam memangku jabatan dan
mengikuti suatu program studi. Dalam hal ini program studi di instutusi
pendidikan juga dipandang sebagai “jabatan”, sehingga akan diikuti prosedur
yang sama terhadap pilihan bidang pekerjaan dan bidang studi.Dengan
demikian,aliran konseling jabatan telah memperluas diri menjadi Konseling Jabatan-Akademik,yang dewasa
ini sering disebut Konseling Karier.
Ada beberapa asumsi pokok yang
mendasari teori konseling trait and factor, adalah:
1. Kecapakan
dan kemampuan individu bersifat unik dan beragam, maka tes objektif dapat
digunakan untuk mengindentifikasi karakteristik tersebut.
2. Pola-pola
kepribadian dan minat berkorelasi dengan perilaku kerja tertentu.
3. Kurikulum
sekolah yang berbeda akan menuntut kapasitas dan minat yang berbeda.
4. Baik
siswa maupun konselor hendaknya mendiagnosa potensi siswa untuk mengawali
penempatan dalam belajar dan pekerjaan.
5. Setiap
orang memiliki kecakapan dan keinginan untuk mengindentifikasi secara kognitif
kemampuan sendiri.
Kekuatan teori ini adalah
mengungkapkan data tentang potensi yang dimiliki individu dengan berbagai
instrumen tes, sehingga data yang didapat cukup valid. Individu juga akan
memperoleh berbagai informasi tentang pekerjaan yang dibutuhkannya.
Kelemahan teori ini adalah pilihan
pekerjaan yang diberikan pada individu hanya satu, sehingga akan timbul
kesulitan pada individu tersebut seandainya pekerjaan tersebut tidak diperoleh.
Aplikasi Teori Trait
& Factor dalam Bimbingan dan Konseling
Perkembangan
karir merupakan proses yang bermula dari masa anak-anak sampai lanjut usia.
Dalam setiap tahap perkembangan karir, setiap individu memiliki tingkat
kematangan yang bersamaan dengan persiapan karir. Karena itu pada setiap tahap
perkembangan karirnya, setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan karir.
Pada usia remaja tugas perkembangan karir yang penting adalah mempersiapkan
diri memasuki karir. Dalam tugas itu remaja sudah mulai melakukan pemilihan dan
perencanaan karir. Namun masih terdapat beberapa persoalan yang dialami remaja
dalam menentukan karirnya. Di sekolah, tugas perkembangan karir remaja juga
merupakan bagian pelayanan bimbingan konseling. Sehubungan dengan persoalan
perkembangan karir remaja, keberadaan bimbingan konseling sekolah sangat tepat untuk
membantu siswa dalam memilih dan merencanakan karirnya.
Berdasarkan persoalan karir yang dialami oleh remaja, teori
trait & factor dapat digunakan terhadap semua kasus yang mengandung
unsur-unsur sebagai berikut: termasuk ragam konseling jabatan atau konseling
akademik (konseling karier), di mana konseli menghadapi keharusan untuk memilih
di antara beberapa alternatif, konseli telah menyelesaikan minimal jenjang
pendidikan SMP dan sudah mulai tampak stabil dalam berbagai ciri kepribadian,
konseli tidak menunjukkan kelemahan serius dalam beberapa segi kepribadiannya,
misalnya selalu ragu-ragu dalam keputusan tentang apa pun juga atau sangat
dikuasai oleh alam perasaannya sendiri. metodenya adalah melaui
tenkik-teknik sebagai berikut diantaranya adalah wawancara, prosedur
interpretasi tes dan menggunakan informasi jabatan/pekerjaan yang selanjutnya
akan disusun untuk membantu menyelesaikan masalah konseli, dan membantu dalam
membuat keputusan karir
1.
Teknik wawancara
a. Establishing rappot (menciptakan
hubungan baik)
b. Cultivating self understanding
(mengolah pemahaman diri)
c. Advising or planning a program of
action (mempertimbangkan atau merencanakan program pelaksanaan
d. Carrying out the plan (pelaksanaan
rencana)
e. Referal (pengalih tangan)
Prinsip wawancara konseling trait and factor :
a.
Jangan menceramahi atau mematahkan semangat konseli
b. Gunakan bahasa yang mudah dipahami
dan batasilah informasi yang akan diberikan pada konseli untuk mencari dan
berupaya dengan kemampuan yang dimilikinya
c. Yakinkan bahwa kita tahu tentang apa
yang konseli ingin bicarakan sebelum memberikan informasi atau jawaban
d. Yakinkan bahwa sikap konseli bisa
dijadikan pegangan untuk membantu pemecahan masalah
2.
Interpretasi tes
a. Mengarahkan atau menasehatkan (direct
advising)
b. Persuasi (persuasion)
c. Penjelasan (explanation)
3.
Informasi pekerjaan (Brayfield: 1950)
a. Informasi
b. Penyesuaian kembali
c. Motivasi
Exploration (Eksplorasi). Konselor menggunakan informasi pekerjaan
untuk membantu konseli membuat penelitian yang baik terhadap dunia kerja dari
bidang pekerjaan tersebut.
Assurance (Keyakinan). Konselor menggunakan informasi pekerjaan untuk
meyakinkan konseli pilihan pekerjaannya cocok atau menghilangkan yang tidak
cocok.
Evaluation (Evaluasi). Konselor menggunakan informasi pekerjaan untuk
memeriksa keyakinan dan kesinambungan pengetahuan dari konseli tersebut dan
pemahamannya dari pekerjaan tersebut atau sejenis.
Startle (mengejutkan). Konselor menggunakan informasi pekerjaan
Untuk memeriksa apakah konseli menunjukkan tanda-tanda yakin atau tidak setelah
melalui beberapa hal.
Trait and Factor memiliki tujuan untuk mengajak siswa
(konseling) untuk berfikir mengenai dirinya serta mampu mengembangkan cara-cara
yang dilakukan agar dapat keluar dari masalah yang dihadapinya. TF dimaksudkan
agar siswa mengalami:
1. Self-Clarification / Klarifikasi diri
- Self-Understanding / Pemahaman diri
- Self-Acceptance / Penerimaan diri
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ø Teori Trait & Factor adalah suatu teori
yang berusaha mencocokkan atau menyesuaikan individu dengan suatu okupasi
atau karir tertentu dengan melakukan tes kepribadian atau tes psikologis
sehingga seseorang akan mendapatkan okupasi atau pekerjaan sesuai dengan
kepribadian yang dimilikinya.
Ø Beberapa
tokoh yang sering dikenal dalam teori trait and factor adalah Walter Bigham,
John Darley, Donald G.Paterson dan E.G.Williamson. Dari beberapa pelopor pengembangan
teori Trait & factor ini yang paling terkenal ialah E.G.Williamson.
Ø Menurut
teori trait & factor,
kepribadian merupakan sistem atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang
lainnya seperti kecakapan, minat, sikap dan tempramen. Kekuatan teori ini adalah
mengungkapkan data tentang potensi yang dimiliki individu dengan berbagai
instrumen tes, sehingga data yang didapat cukup valid. Individu juga akan
memperoleh berbagai informasi tentang pekerjaan yang dibutuhkannya. Kelemahan teori ini adalah pilihan pekerjaan yang diberikan pada individu
hanya satu, sehingga akan timbul kesulitan pada individu tersebut seandainya
pekerjaan tersebut tidak diperoleh.
Ø Berdasarkan persoalan karir yang
dialami oleh remaja, teori trait & factor dapat digunakan terhadap semua
kasus yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut: termasuk ragam konseling
jabatan atau konseling akademik (konseling karier), di mana konseli menghadapi
keharusan untuk memilih di antara beberapa alternatif, konseli telah
menyelesaikan minimal jenjang pendidikan SMP dan sudah mulai tampak stabil
dalam berbagai ciri kepribadian, konseli tidak menunjukkan kelemahan serius dalam
beberapa segi kepribadiannya, misalnya selalu ragu-ragu dalam keputusan tentang
apa pun juga atau sangat dikuasai oleh alam perasaannya sendiri. metodenya adalah melaui
tenkik-teknik sebagai berikut diantaranya adalah wawancara, prosedur
interpretasi tes dan menggunakan informasi jabatan/pekerjaan yang selanjutnya
akan disusun untuk membantu menyelesaikan masalah konseli, dan membantu dalam
membuat keputusan karir

0 komentar:
Posting Komentar