Kamis, 09 Januari 2014

tik dalam pembelajaran moderen bk ppt disini
analisis  swot tik dalam bk ppt disini
A.   Konsep penelitian tindakan

Penelitian tindakan berkaitan erat dengan penelitian kualitatif, karena memang dalam pengumpulan datanya menggunakan pendekatan kualitatif.
Penelitian tindakan merupakan suatu pencarian sistematik yang dilaksanakan oleh para pelaksana program dalam kegiatannya sendiri (dalam pendidikan dilakukan oleh guru, dosen, kepala sekolah, konselor), dalam mengumpulkan data tentang pelaksanaan kegiatan, keberhasilan dan hambatan yang di hadapi, untuk kemudian menyusun rencana dan melakukan kegiatan-kegiatan penyempurnaan. Ada beberapa perbedaan utama dari penelitian tindakan dengan penelitian biasa.

Perbedaan antara Penelitian Biasa dengan Penelitian Tindakan

APA
PENELITIAN BIASA
PENELITIAN TINDAKAN
SIAPA
Dilakukan oleh para profesor, ahli, peneliti khusus, mahasiswa terhadap kelompok khusus, kelompok eksperimental dan kontrol.
Dilakukan oleh para pelaksana kegiatan dalam kegiatan yang menjadi tugasnya.
DIMANA
Dalam lingkungan dimana variabel dapat dikontrol.
Di dalam lingkungan kerja atau lingkungan tugasnya sendiri.
BAGAIMANA
Mengggunakan pendekatan kuatitatif, menguji signifikansi statistik, hubungan sebab-akibat antar variabel.
Menggunakan pendekatan kualitatif menggambarkan apa yang sedang berjalan dan ditujukan untuk mengetahui dampak dari kegiatan yang dilakukan.
MENGAPA
Menemukan kesimpulan yang dapat digeneralisasikan
Melakukan tindakan dan mendapatkan hasil positif dari perubahan yang dilakukan dalam lingkungan kerja atau tugasnya.

Penelitian tindakan menggabunngkan kegiatan penelitian atau pengumpulan data dengan penggunaan hasil penelitian atau pengumpulan data. Kegiatan ini dilakukan secara timbal balik membentuk spiral: rencana, tindakan, pengamatan dan refleksi.
Asusmsi yang mendasari pelaksanaan penelitian tindakan adalah bahwa orang akan belajardan mengembangkan pengetahuan:
1)    Dalam pengalaman sendiri yang konkrit
2)    Melalui pengamatan dan refleksi dalam pengalaman tersebut.
3)    Melalui pembentukan konsep abstrak dan generalisasi.
4)    Dengan menguji implikasi konsep dalam situasi baru.

B.   Pengertian PTK
Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu penelitian yang sedang diminati khususnya oleh para guru karena penelitian ini dapat dilaksanakan tenpa harus meninggalkan tugas guru sebagai pendidik. Bahkan sebenarnya guru telah melaksanakan jenis penelitian ini hanya saja mereka beum mendokumentasikannya secara baik.
Berikut ini pengertian PTK menurut beberapa ahli:
1.    Menurut Kemmis & Taggart (1988) penelitian tindakan adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri, tetapi dilaksanakan secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri.
2.    Hopkins (1993) penelitian tiindakan kelas atau classroom action research merupakan kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan oleh sekelompok masyarakat melalui tindakan praktis yang mereka lakukan dan merefleksi hasil tindakannya.
3.    Suwarsih Madya (1998) penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang di tunjukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dan itu disebut “penelitian tindakan kelas” atau PTK.
4.    Dalam bahasa Inggris Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diartikan dengan ClassroomAction Research (CAR). Dari sisi namanya sudah menunjukkan isi yang terkandung didalamnya. Karena itu Arikunto, dkk (2006), Aqib (2007), Madya (2006) mengemukakan bahwa ada tiga kata yang membentuk pengertian tersebut, yaitu (1) penelitian, (2) tindakan, dan (3) kelas. Sehubungan dengan itu, maka Arikunto dkk (2006) mengartikan penelitian tindakan kelas sebagai suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Karena itu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
5.     Hal tersebut sejalan dengan Burns, (1999); Kemmis & McTaggrt (1982); Reason & Bradbury (2001) dalam Madya (2007) yang menjelaskan bahwa penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Karena itu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dan ia disebut ”penelitian tindakan kelas” atau PTK.  Sehubungan dengan itu, maka pertanyaan yang muncul adalah ”Kapan seorang guru secara tepat dapat melakukan PTK?” Jawabnya: Ketika guru ingin meningkatkan kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dan sekaligus ia ingin melibatkan peserta didiknya dalam proses pembelajaran. Karena itu,
C.   Fungsi  penelitian tindakan kelas
fungsi PTK sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas, yaitu sebagai: (a) alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan 198 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami) pendekatan tambahan atau inovatif; (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e) alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas (Cohen & Manion, dalam Madya, 2007). Hal tersebut dapat dilakukan oleh guru karena: (1) hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang menginginkannya; (2) penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait; (3) peneliti tindakan (guru) melakukan sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan.
D.   Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan kelas
Tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkanpraktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. Tujuan ini “melekat” pada diriguru dalam penunaian misi professional kependidikannya (Aqib, 2007). Hal inimenunjukkan bahwa sesungguhnya PTK bertujuan untuk memecahkan permasalahan nyatayang terjadi di dalam kelas. Karena itu menurut Suharjono (2006), tujuan penelitian tindakan kelas adalah meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, mengatasi masalah pembelajaran, meningkatkan profesionalisme, dan menumbuhkan budaya akademik.
Sedangkan Arikunto (2006) merinci tujuan PTK, yaitu: (1) meningkatkan mutu isi, masukan,proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah; (2) membantu guru dan tenaga kependidikan lainna mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan di luar kelas; (3) meningkatkan sikap professional pendidik dan tenaga kependidikan; (4) menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka manfaat yang dapat diperoleh jika guru maudan mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas, antara lain: (1) inovasi pembelajaran, (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan di tingkat kelas, dan (3) peningkatanproresionalisme guru (Aqib, 2007).
Sejalan dengan itu, Rustam dan Mundilarto (2004) mengemukakan manfaat PTK bagiguru, yaitu: (1) Membantu guru memperbaiki mutu pembelajaran, (2) Meningkatkan profesionalitas guru, (3) Meningkatkan rasa percaya diri guru, (4) Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya.
E.   Karakteristik PTK
Karakteristik PTK meliputi: (1) dirancang untuk mengatasi permasalahn nyata, (2) diterapkan secara kontekstual, (3) terarah pada peningkatan kinerja guru di kelas, (4) bersifat fleksibel, (5) data diperoleh langsung dari pengamatan atas perilaku dan refleksi, (6) bersifat situasional dan spesifik (Natawidjaya, 1997)

F.    Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling
Konsep penelitian tindakan merupakan terjemahan dari action research, yang secara sederhana diartikan sebagai bentuk penelitian terhadap suatu tindakan yang telah dilaksanakan sesuai dengan rancangan. Istilah penelitian mengandung makna sebagai upaya mencermati sesuatu, dalam hal ini suatu tindakan yang dirancang dan dilaksanakan secara cermat untuk mengatasi suatu permasalahan yang dihadapi.
Kegiatan penelitian tindakan (action research) pada awalnya dilakukan di dunia industri, ditujukan untuk memperbaiki kinerja para karyawan sehingga diharapkan produktivitas meningkat. Proses action research pada seting industri telah menunjukkan hasil yang luar biasa, yakni meningkatnya kinerja para karyawan yang disertai dengan peningkatan produktivitas kerjanya. Bertolak dari keberhasilan ini, gagasan action research diangkat dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan sebutan classroom action research, yakni suatu penelitian tindakan (action research) yang dilaksanakan di kelas.
1)    Makna penelitian tindakan (action research) dalam seting pendidikan
dijelaskan oleh McNiff (1991) sebagai berikut: Action research is a form of self-reflective inquiry undertaken by participants (teachers, students or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (1) their own social or educational practices, (2) their understanding of these practices, and (3) the situations (and institutions) in which the practices are carried out.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dirumuskan beberapa
bebepara ide pokok tentang penelitian tindakan, yaitu :
1) Penelitian tindakan merupakan suatu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri.
2) Penelitian tindakan dilakukanoleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa atau kepala sekolah.
3) Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan.
4) Tujuan penelitian tindakan adalah untuk memperbaiki : dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap praktik tersebut, dan situasi atau lembaha tempat praktik tersebut dilaksanakan.
Berdasarkan gagasan di atas, maka penelitian tindakan itu merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utamanya, dilakukan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya, dan bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek (Wardhani, 2008: 1.4).
PTBK adalah suatu penelitiian yang melibatkan peneliti secara langsung kepada subjek penelitian.  Penelitian tindakan BK ini bertipe tindakan kemitraan atau penelitiankolaboratif. Kolaboratif yang dilakukan adalah berupa bentuk kerja sama antara guru pembimbing atau konselor sebagai pelaksana tindakan dan peneliti dalam hal ini adalah sebagai pengumpul data.
Senada dengan pengertian tersebut, Mills (2000) mendefinisikan penelitian tindakan sebagai “systematic inquiry” yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, atau konselor sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai praktik yang dilakukannya. Informasi ini digunakan untuk meningkatkan persepsi serta mengembangkan “reflective practice” yang berdampak positif dalam berbagai praktik persekolahan, termasuk memperbaiki hail belajar siswa. (Wardhani, 2008: 1.4).
Mengacu pada pengertian penelitian tindakan di atas, dapat
dirumuskan makna penelitian tindakan kelas sebagai penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri, melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar
siswa meningkat. Pada seting bimbingan dan konseling, penelitian tindakan itu dilaksanakan oleh guru pembimbing atau konselor sekolah di dalam kelasnya (bimbingan dan konseling kelompok atau bimbingan klasikal) dan secara invidual dengan konseli, melalui refleksi diri sebagai teknik utamanya, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar konseli meningkat – yakni timbulnya perubahan perilaku dan pribadi konseli ke arah yang lebih baik.
2)    Karakteristik Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling
Berdasarkan makna penelitian tindakan seperti dipaparkan di atas, dapat dirumuskan karakteristik penelitian tindakan bimbingan dan konseling sebagai berikut:
1) Merupakan penelitian kolaborasi peneliti dengan teman sejawat/guru/praktisi pada semua langkah penelitian.
2) Fokus pada pemecahan masalah praktik bimbingan dan konseling di dalam kelas maupun secara individual.
3) Partisipatori: melibatkan semua pelaksana program yang akan diperbaiki termasuk subyek penelitian.
4) Pelaksanaan penelitian melalui spiral refleksi diri (self-reflective) yakni guru pembimbing atau konselor sekolah mengumpulkan data dari praktiknya sendiri melalui refleksi: mengingat apa yang dikerjakannya di kelas atau terhadap konseli secara individual, apa dampak tindakan tsb. bagi konseli, mengapa dampaknya seperti itu, apa kekuatan dan kelemahan tindakan seperti itu, kemudian mencoba (tindakan) memperbaiki kelemahan itu, dst.
5) Bertujuan untuk memperbaiki proses bimbingan dan konseling, dilakukan bertahap dan terus-menerus selama kegiatan penelitian dilakukan  ada siklus : perencanaan (planning ) tindakan  pelaksanaan (acting)  pengamatan (observing ) refleksi (reflecting ) revisi (perencanaan ulang tindakan bimbingan dan konseling).
3)    Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling
1) Kegiatan penelitian dilakukan dalam situasi rutin penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di sekolah
2) Dilandasi kesadaran bahwa manusia tidak ada yang sempurna, sehingga perlu selalu memperbaiki diri.
3) Penelitian dilakukan atas dasar hasil analisis SWOT terhadap pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
4) Penelitian merupakan upaya pemecahan masalah berdasarkan pengalaman Guru Pembimbing atau Konselor Sekolah dan bersifat sistemik.
5) Dalam perencanaan penelitian tindakan selalu harus memperhatikan prinsip SMART.
a) Specific, yaitu permasalahan dan tindakannya khusus atau tertentu.
b) Managable, yaitu dapat dilaksanakan oleh guru pembimbing atau konselor sekolah.
c) Acceptable, yaitu dapat diterima oleh khalayak atau anggota profesi bimbingan dan konseling.
d) Realistic, yaitu terdukung sumber daya yang tersedia, baik sumber daya manusia (guru pembimbing atau konselor sekolah) maupun sarana/prasarana.
e) Time-bound, yaitu ada batasan waktu pelaksanaan kegiatan minimal 2 siklus, lajimnya antara 3 – 5 siklus.
Prinsip PTBK
1.Tidak menganggu komitmen konselor sebgai pendidik.
2.Pengumpulan data tidak menuntut waktu berlebihan sehingga tidak mengganggu KBM.
3.Metodologi yang digunakan taat azas PTBK.
4.Masalahnya muncul dari guru pembimbing atau konselor yang paling merisaukan.
5.Konsisten dan peduli terhadap prosedur.
6.Tidak mengenal kelompok eksperimen ataupun kontrol.

4)    Langkah-langkah Penelitian Bimbingan dan Konseling
Penelitian tindakan bimbingan dan konseling ditempuh seperti halnya
penelitian tindakan kelas, yakni dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur atau bersilus, yang terdiri atas empat tahap, yaitu:
(1) perencanaan (planning), (2) melaksanakan tindakan (acting), (3)
pengamatan/pengumpulan data (observing), dan (4) melakukan
refleksi (reflecting), kemudian ada revisi (perencanaan ulang tindakan bimbingan dan konseling). Revisi ini pada dasarnya merencanakan kegiatan siklus berikutnya. Hal ini dilakukan dengan mengacu pada hasil refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan pada siklus terdahulu. Revisi dilakukan jika ternyata tindakan yang dilakukan belum berhasil memperbaiki praktik atau memecahkan masalah yang menjadi kerisauan guru pembimbing atau konselor sekolah. Dalam praktiknya, setiap tahap kegiatan pada siklus penelitian tindakan dapat terdiri atas atau didahului oleh beberapa langkah
kegiatan. Namun secara operasional, prosedur perencanaan dan pelaksanaan penelitian tindakan ditempuh dengan empat langkah utama, yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, (2) menganalisis dan merumuskan masalah, (3) merencanakan penelitian tindakan, dan (4) melaksanakan penelitian tindakan (Wardhani, 2008: 2.4). Dalam
penelitian tindakan bimbingan dan konseling, keempat langkah
tersebut diuraikan sebagai berikut.
1) Identifikasi masalah
Penelitian tindakan bimbingan dan konseling bertolak dari keresahan yang dirasakan oleh Guru Pembimbing atau Konselor Sekolah tentang praktik pelayanan bimbingan dan konseling kepada konseli. Apa yang terjadi ketika Guru melaksanakan praktik pelayanan bimbingan dan konseling ? Pertanyaan ini merupakan langkah awal atau Refleksi awal dalam suatu proses penelitian tindakan bimbingan dan konseling. Dari pertanyaan tersebut kemudian berlanjut pada pertanyaan berikut: Masalah apa yang ditimbulkan oleh kejadian itu ? Apa pengaruh masalah tersebut terhadap konseli atau kelas (kelompok konseli) ? Apa yang akan terjadi jika masalah tersebut dibiarkan ? Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah atau kejadian
tersebut ?Proses identifikasi masalah atau refleksi awal penelitian tindakan difokuskan pada proses pelayanan bimbingan dan konseling sesuai dengan bidang layanannya. Identifikasi dapat difokuskan pada empat pilar layanan bimbingan dan konseling (Ditjen PMPTK Depdiknas, 2007: 40-45), yaitu meliputi program:
a) pelayanan dasar, mencakup bimbingan klasikal, pelayanan orientasi, pelayanan informasi, bimbingan kelompok, dan pelayanan pengumpulan data (apliaksi instrumentasi).
b) Pelayanan responsif, mencakup konseling individual dan kelompok, referal (rujukan atau alih tangan), kolaborasi dengan guru mata pelajaran atau wali kelas, kolaborasi dengan orang tua, kolaborasi dengan pihak-pihak lain di luar sekolah, konsultasi, bimbingan teman sebaya, konferensi kasus, dan kunjungan rumah.
c) Perencanaan individual, di sini konselor membantu peserta didik menganalisis kelebihan dan kekurangan dirinya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar maupun karir. Konseli menggunakan informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk: (1) merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternative kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya, (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya. d) Dukungan sistem, mencakup pengembangan profesi dan manajemen program
2) Analisis dan perumusan masalah
Masalah yang teridentifiksasi selanjutnya dianalisis, sehingga dapat dirumuskan masalah penelitian tindakan bimbingan secara jelas. Agar analisis tepat perlu didukung oleh data atau informasi yang memadai, sehingga guru pembimbing atau konselor sekolah perlu mengkaji ulang berbagai dokumen yang ada. Proses analisis masalah ini sebenarnya masih kelanjutan dari kegiatan refleksi, yang lebih difokuskan pada menemukan faktor penyebab dan kemungkinan upaya/tindakan/pelayanan bimbingan dan konseling yang dapat diterapkan untuk mengatasinya. Berdasarkan hasil analisis masalah tersebut, kemudian dirumuskan masalah penelitian tindakan bimbingan dan konseling dalam bentuk pernyataan atau (seringkali) pertanyaan.
3) Merencanakan penelitian (perbaikan) tindakan
Rencana penelitian tindakan bimbingan dan konseling disebut juga rencana perbaikan pelayanan bimbingan dan konseling. Rencana perbaikan yang akan dilakukan sebaiknya dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan. Hipotesis ini menggambarkan bahwa tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan konseling yang dipilih tersebut dapat memperbaiki/mengatasi permasalahan yang dihadapi. Tindakan (perbaikan) yang dipilih dapat berupa strategi, pendekatan, metode atau teknik-teknik dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Cara perbaikan atau tindakan pelayanan bimbingan dan konseling tersebut dikembangkan sesuai dengan konsep teoretis yang mendasarinya, kemampuan dan komitmen guru pembimbing atau konselor sekolah, karakteristik konseli, sarana dan prasarana sebagai media pelayanan yang tersedia, dan nuansa pelayanan bimbingan dankonseling di sekolah tersebut.
4) Melaksanakan penelitian tindakan
Pelaksanaan tindakan (perbaikan) dimulai dengan mempersiapkan rencana pelayanan dan skenario tindakan/pelayanan bimbingan dan konseling, serta menyiapkan kelengkapan pendukung yang dapat mempermudah pelaksanaan, perekaman/pengamatan proses maupun hasil, dan pelaporannya.
5) .Instrumen Observasi dan Evaluasi Tindakan Bimbingan dan Konseling
Keberhasilan tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan konseling dapat diketahui melalui: (1) hasil pengamatan terhadap kinerja guru dalam melakuakan tindakan yang dilakukan oleh teman sejawat, (2) perubahan perilaku konseli selama proses, dan (3) hasil akhir yang ditunjukkan oleh perubaha perilaku konseli setelah mengikuti proses pelayanan bimbingan dan konseling. Pengamatan oleh teman sejawat dan tentang kinerja guru/konselor dan perubahan perilaku konseli selama proses pelayanan menggunakan pedoman pengamatan; sedangkan hasil akhir tinadakan (perbaikan) pelayanan diperoleh melalui evaluasi akhir pelayanan bimbingan dan konseling.
6) Evaluasi/refleksi pelaksanaan Tindakan Bimbingan dan Konseling
Evaluasi atau refleksi pelaksanaan tindakan didasarkan pada data atau informasai berikut: (1) hasil pengamatan teman sejawat terhadap kinerja (tindakan) guru pembimbing/konselor, (2) hasil pengamatan perubahan perilaku konseli selama proses tindakan, dan (3) hasil akhir berupa perubahan perilaku konseli setelah mengikuti tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan konseling.
7) Merancang Perbaikan Tindakan Bimbingan dan Konseling
Kegiatan ini dimaksudkan untuk merancang perbaikan tindakan bimbingan dan konseling siklus kedua. Tentu saja, rancangan perbaikan tindakannya sangat bergantung pada hasil evaluasi/rekleksi pelaksanaan tindakan bimbingan dan konseling pada siklus pertama. Oleh karena itu, rancangan tindakan (perbaikan) siklus kedua bersifat menyempurnakan rencana tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan konseling siklus pertama.



Daftra pustaka
Arikunto, Suharsimi dkk.2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta.
Aswandi. 2006. Guru Sebagai Peneliti. http://www.pontianakpost.com/. Diakses, 15
Nopember 2007.
Aqib, Zainal.2007. Penelitian Tindakan Kelas. YRama Widya. Bandung.
Madya, Suwarsih. 2006. Teori dan Praktek Penelitian Tindakan Kelas (Action Research). Alfabeta.
Bandung.
Andayani dkk. (2008). Pemantapan Kepampuan Profesional. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Ditjen PMPTK Depsiknas. (2008). Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan
dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdiknas.
Mills, G.E. (2000). Action Research: A Guide for the Teacher Reseascher.
Columbus: Merrill, An Imprint of Prentice-Hall.
McNiff, J. (1991). Action Research: Principles and Practice. London:
Macmillan.
McNiff, J. & Whitehead, J. (2006). All You Need Know About Action Research.
London: Sage Publication.
Raka Joni, T., Kardiawarman, dan Hadisubroto, T. (1998). Penelitian Tindakan

.
teknologi informasi dan komunikasi ppt disini 
komponen - komponen dan data komputer ppt disini 
pengkajian dan pembahasan tentang program pemerintah dan swasta dalam implementasi tik untuk bk ppt disini
peran dan manfaat tik disini

Rabu, 08 Januari 2014

program pemerintah swasta dalam implementasi tik untuk bk ppt disini
media pembelajaran sejarah komnputer tik ppt disini

Sabtu, 04 Januari 2014

Pengertian Psikologi Komunitas


Di Indonesia Psikologi Komunitas dibahas sebagai “Kesehatan Masyarakat” dalam disiplin ilmu kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Psikologi Komunitas juga merupakan subbagian dalam Psikologi Sosial, Sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tapi dalam hal ini Psikologi Komunitas akan diuraikan sebagai suatu kegiatan yang berkaitan dengan memberi bantuan kepada orang lain dalam hal gangguan emosional, penyesuaian diri dan masalah-masalah psikologis lainnya.
Dalam pendekatan psikologi klinis, treatment diberikan kepada seseorang atau kelompok yang mengalami gangguan atau yang memiliki masalah dan klien menerima treatment tersebut. Kenyataannya seringkali sulit untuk memastikan siapa yang memerlukan terapi atau bantuan psikologis. Dilihat dari pandanan sosiokultual, lingkungan sosio kltural dan interaksinya dengan subjek atau sekelompok subjeklah penyebab munculnya gangguan jiwa, hal ini dikarenakan tuntutan sosial kepada subjek untuk mengikuti kondisi yang berlaku misalnya norma sosial, dan lainnya.
Banyak perubahan-perubahan dalam tatanan masyarakat sekarang ini yang menyebabkan banyaknya muncul gejala-gejala sosial seperti kemiskinan, kekumuhan, polusi udara, pengungsian penduduk bahkan bencana alam sangat memungkinkan munculnya ancaman gangguan-gangguan psikologis terutama dalam hal gangguan emosional. Kondisi ini membutuhkan suatu pendekatan yang tidak menggunakan cara tradisional dari psikologi klinis, tetapi membutuhkan sutau pendekatan menyeluruh yakni pendekatan komunitas.
            Psikologi komunitas pada dasarnya terkait dengan hubungan antar sistem sosial, kesejahteraan dan kesehatan individu dalam kaitan dengan masyarakat. Psikologi komunitas didefinisikan sebagai sutau pendekatan kepada kesehatan mental yang menekankan pada peran daya lingkunan dalam menciptakan masalah atau mengurangi masalah. Psikologi komunitas berfokus pada arah permasalahan kesehatan mental dan sosial  yang  dikembangkan melalui intervensi juga riset dengan setting mencakup  masyarakat dan komunitas pribadi.
 Seorang ahli yang bernama Rapaport mengemukakan bahwa pespektif dari psikologi komunitas memberikan perhatian pada tiga hal utama yakni (Phares,1992):
  1. Pengembangan sumber daya individu.
  2. Aktivitas politik.
  3. Ilmu Pengetahuan.
Adapun mengenai bentuk penekanan pendekatan kesehatan mental komunitas menurut Bloom (dalam Phares,1992) ada limaIntervensi dalam komunitas, penekanan pencegahan,intervensi dalam komunitas dilakukan dalam populasi yang terbataspromosi dalam pelayanan tak lamgsung misalnya melalui pelatihan dan pemberdayaanpelaksanaan yang dilakukan oleh ahli dari berbagai bidang ilmu.
Ada beberapa konsep yang sangat melekat pada pendekatan psikologi komunitas, yakni pada :
·        Pencegahan. Pencegahan dari gangguan psikologis bertujuan untuk menghemat biaya perawatan penderita. Terdiri dari tiga yakni pencegahan primer, sekunder dan tertier.
·        Pemberdayaan manusia. Pemberdayaan manusia dalam masyarakat bertujuan untuk mempertahankan kesehatan dan mencegah munculnya gangguan-gangguan psikologis.
A.    Fokus dalam strategi intervensi
Price dkk (dalam Phares,1992) mengemukakan perbandingan antara orientasi klinis dan orientasi komunitas dalam strategi komunitasnya. Orientasi klinis memperhatikan bagaimana mengatasi gangguan pada tingkat individual, organisasi,dan komunitas. Orientasi komunitas disisi lain mengutamakan peningkatan kompetensi.
B.    Metode intervensi dan perubahan dalam pendekatan komunitas (korchin, 1976)
·        Konsultasi
·        Mengadakan layanan masyarakat
·        Intervensi krisis
·        Intervensi pada usia dini
·        Pengembangan berbagai program pelatihan upaya pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan  dengan membuat tulisan singkat tentang upaya yang cepat untuk mengatasi berbagai keadaan darurat misal kecemasan dan mengatasi stress
PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN PSIKOLOGI KOMUNITAS
Prinsip dasar yang perlu diperhatikan program pengembangan komunitas :
1)      Pengembangan komunitas pada dasarnya merupakan sebuah proses pengorganisasian masyarakat yang harus dilaksanakan secara sistematis
2)      Perorganisasian masyarakat hendaknya dipertimbangan dan diterjemahkan dalam tindakan prinsip : collective interest, targets, action, action plan, contribution.
3)      Kegiatan dalam pengembangan komunitas perlu mengutamakan partisipasi anggota komunitas
Prevensi terdiri tiga macam:
1)      Prevensi primer
2)      Prevensi sekunder
3)      Prevensi tersier
Prinsip utama psikologi komunitas dalam aplikasi dan peranannya Nietzel dkk (sunberr,2002) :
1)      Psikologi komunitas tidak lagi memandang perilaku hanya ditentukan oleh faktor biologis
2)      Psikologi komunitas memandang bahwa yang bersifat intervensi dan pencegahan perlu dilakukan di tempat orang yang tinggal dalam komunitas
3)      Kegiatan intervensi untuk meningkatkan kesehatan mental dan kegiatan pencegahan gangguan sosial psikologis tidak lagi ditunjukkan bagi perubahan perseorangan namun perubahan sistem sosial.

Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar




Menurut Webster diagnosis yaitu proses menentukan hakekat daripada kelainan atau ketidakmampuan dengan ujian dan melalui ujian tersebut dilakukan suatu penelitian yang hati-hati terhadap fakta-fakta untuk menentukan masalahnya. Sedangkan menurut Harriman dalam bukunya Handbook of Psychological Term, diagnosis adalah suatu analisis terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari simptom-simptomnya. Dapat disimpulkan bahwa diagnosis adalah suatu cara menganalisis suatu kelainan dengan mengamati gejala-gejala yang Nampak dan dari gejala tersebut dicari factor penyebab kelainan tadi.
Kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada anak ditandai adanya prestasi atau hasil belajar yang rendah serta berada di bawah norma yang ditetapkan.
Blassic dan Jones mengatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yan diharapkan dengan prestasi akademik yang nampak sekarang (prestasi aktual). Anak yang mengalami kesulitan belajar itu adalah anak yang mempunyai intelegensi normal, tapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar.
Kesulitan atau hambatan dalam kegiatan belajar bersifat fisiologis, psikologis, dan sosial.

Teori Trait & Factor

Pengertian Teori Trait & Factor
Trait adalah suatu ciri yang khas bagi seseorang dalam berpikir, berperasaan, dan berperilaku seperti intelegensi (berpikir), iba hati (berperasaan), dan agresif (berprilaku). Jadi, Teori Trait & Factor adalah suatu teori yang berusaha mencocokkan atau menyesuaikan individu dengan suatu  okupasi atau karir tertentu dengan melakukan tes kepribadian atau tes psikologis sehingga seseorang akan mendapatkan okupasi atau pekerjaan sesuai dengan kepribadian yang dimilikinya.
Konsep Teori Trait & Factor
Menurut teori ini kepribadian merupakan sistem atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya seperti kecakapan, minat, sikap dan tempramen. Beberapa tokoh yang sering dikenal dalam teori trait and factor adalah Walter Bigham, John Darley, Donald G.Paterson dan E.G.Williamson.
Dari beberapa pelopor pengembangan teori Trait & factor ini yang paling terkenal ialah E.G.Williamson, teori ini juga dikenal dengan directive counseling atau Counseling-Centered Counseling , karena konselor secara sadar mengadakan strukturalisasi dalam proses konseling dan berusaha mempengaruhi arah perkembangan konseli demi kebaikan konseling sendiri. Teori ini menilai tinggi kemampuan manusia untuk berpikir rasional dan memandang masalah konseli sebagai problem yang harus dipecahkan dengan menggunakan kemampuan itu (problem-solving approach).
Dalam segi teoritis dan dalam segi pendekatannya,teori ini bersumber pada gerakan bimbingan jabatan, sebagaimana dikembangkan di Amerika Serikat  sejak awal abad yang ke-20.
Dalam bukunya yang berjudul Vocation Counseling (1965) Williamson menguraikan sejarah perkembangan bimbingan jabatan dan proses lahirnya konseling jabatan yang berpegang pada teori Trait-Factor.Pada akhir abad yang ke-19 Frank Parsons mulai mencari suatu cara untuk membantu orang-orang muda dalam memilih suatu bidang pekerjaan yang sesuai dengan potensi mereka, sehingga cukup berhasil di bidang pekerjaan itu. Dalam bukunya Choosing a Vocation (1909), Frank Parsons menunjukkan tiga langkah yang harus diikuti dalam memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki,yaitu :pertama, pemahaman diri yang jelas mengenai kemampuan otak, bakat, minat, berbagai kelebihan dan kelemahan, serta ciri-ciri yang lain dalam dirinya. Kedua, pengetahuan tentang semua persyaratan yang harus dipenuhi supaya dapat mencapai sukses dalam berbagai bidang pekerjaan,serta tentang balas jasa dan kesempatan untuk maju dalam semua bidang pekerjaan itu. Ketiga, berpikir secara rasional mengenai hubungan antara kedua kelompok diatas. Jadi, pada langkah pertam, individu menggunakan analisis diri, pada langkah yang kedua individu memanfaatkan informasi jabatan (vocational information) yang ia peroleh serta pada langkah yang ketiga, individu dapat menerapkan kemampuan untuk berpikir rasional agar dapat menemukan kecocokan antara ciri-ciri kepribadian yang dimiliki mempunyai relevansi terhadap kesuksesan atau kegagalan suatu pekerjaan / jabatan dengan tuntutan klasifikasi dan kesempatan yang terkandung dalam suatu pekerjaan atau jabatan.Dengan demikian, individu tidak asal mencari pekerjaan semata (the hunt of a vocation).
Namun prosedur yang digunakan oleh Frank Parsons untuk menemukan fakta dalam rangka langkah kerja, pada langkah pertama dan kedua ternyata tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan dari segi analisis psikologi dan sosial secara ilmiah.Tekanan pada studi psikologi terhadap masing-masing orang dalam suatu klinik psikologis,dengan menggunakan alat-alat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,menjadi ciri khas dari aliran konseling yang kemudian disebut Konseling Klinikal .Corak konseling yang berpegang pada teori Trait-Factor  berkembang dalam rangka konsepsi aliran Konseling Klinikal.Oleh karena itu,pendekatan konseling Trait-Factor dalam beberapa buku dinamakan Konseling Klinikal.
Alat yang digunakan untuk mempelajari keadaan seseorang sehingga menghasilkan suatu analisis bagi masing-masing pribadi adalah tes-tes psikologis yang mula-mula digunakan oleh para ahli psikologi industri dalam rangka seleksi untuk bidang-bidang pekerjaan tertentu. Berdasarkan identifikasi berbagai kemampuan yang dimiliki atau tidak dimiliki seseorang setelah dites dan bedasarkan penelitian terhadap tuntutan pekerjaan di lapangan untuk mengetahui kemampuan mana yang harus dimilki seseorang supaya berhasil dalam suatu jenis pekerjaan tertentu. Ahli-ahli psikologi industri itu menyusun tabel-tabel prakiraan sukses atau gagalnya seorang aplikan dalam jenis pekerjaan tertentu.Cara berfikir yang demikian mulai diikuti juga oleh konselor jabatan dengan menekankan penggunaan tes-tes psikologis sebagai alat untuk mengidentifikasi ciri-ciri kepribadian seseorang yang mempunyai relevansi terhadap suatu jabatan atau pekerjaan.Dalam hal ini aliran konseling jabatan berpegang pada teori kepribadian yang dikenal dengan nama teori Trait-factor.
Teori Trait –Factor  adalah pandangan yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang dapat dilukiskan dengan mengidentifikasikan sejumlah ciri,sejauh tampak dari hasil testing psikologis yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian itu. Konseling Trait-Factor berpegang pada pandangan yang sama dan menggunakan tes-tes psikologis untuk menganalisis seseorang mengenai ciri-ciri kepribadian tertentu,yang diketahui mempunyai relevansi terhadap keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam memangku jabatan dan mengikuti suatu program studi. Dalam hal ini program studi di instutusi pendidikan juga dipandang sebagai “jabatan”, sehingga akan diikuti prosedur yang sama terhadap pilihan bidang pekerjaan dan bidang studi.Dengan demikian,aliran konseling jabatan telah memperluas diri menjadi Konseling Jabatan-Akademik,yang dewasa ini sering disebut Konseling Karier.
Ada beberapa asumsi pokok yang mendasari teori konseling trait and factor, adalah:
1.      Kecapakan dan kemampuan individu bersifat unik dan beragam, maka tes objektif dapat digunakan untuk mengindentifikasi karakteristik tersebut.
2.      Pola-pola kepribadian dan minat berkorelasi dengan perilaku kerja tertentu.
3.      Kurikulum sekolah yang berbeda akan menuntut kapasitas dan minat yang berbeda.
4.      Baik siswa maupun konselor hendaknya mendiagnosa potensi siswa untuk mengawali penempatan dalam belajar dan pekerjaan.
5.      Setiap orang memiliki kecakapan dan keinginan untuk mengindentifikasi secara kognitif kemampuan sendiri.
Kekuatan teori ini adalah mengungkapkan data tentang potensi yang dimiliki individu dengan berbagai instrumen tes, sehingga data yang didapat cukup valid. Individu juga akan memperoleh berbagai informasi tentang pekerjaan yang dibutuhkannya.
Kelemahan teori ini adalah pilihan pekerjaan yang diberikan pada individu hanya satu, sehingga akan timbul kesulitan pada individu tersebut seandainya pekerjaan tersebut tidak diperoleh.

Aplikasi Teori Trait & Factor dalam Bimbingan dan Konseling
Perkembangan karir merupakan proses yang bermula dari masa anak-anak sampai lanjut usia. Dalam setiap tahap perkembangan karir, setiap individu memiliki tingkat kematangan yang bersamaan dengan persiapan karir. Karena itu pada setiap tahap perkembangan karirnya, setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan karir. Pada usia remaja tugas perkembangan karir yang penting adalah mempersiapkan diri memasuki karir. Dalam tugas itu remaja sudah mulai melakukan pemilihan dan perencanaan karir. Namun masih terdapat beberapa persoalan yang dialami remaja dalam menentukan karirnya. Di sekolah, tugas perkembangan karir remaja juga merupakan bagian pelayanan bimbingan konseling. Sehubungan dengan persoalan perkembangan karir remaja, keberadaan bimbingan konseling sekolah sangat tepat untuk membantu siswa dalam memilih dan merencanakan karirnya.
Berdasarkan persoalan karir yang dialami oleh remaja, teori trait & factor dapat digunakan terhadap semua kasus yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut: termasuk ragam konseling jabatan atau konseling akademik (konseling karier), di mana konseli menghadapi keharusan untuk memilih di antara beberapa alternatif, konseli telah menyelesaikan minimal jenjang pendidikan SMP dan sudah mulai tampak stabil dalam berbagai ciri kepribadian, konseli tidak menunjukkan kelemahan serius dalam beberapa segi kepribadiannya, misalnya selalu ragu-ragu dalam keputusan tentang apa pun juga atau sangat dikuasai oleh alam perasaannya sendiri. metodenya adalah melaui tenkik-teknik sebagai berikut diantaranya adalah wawancara, prosedur interpretasi tes dan menggunakan informasi jabatan/pekerjaan yang selanjutnya akan disusun untuk membantu menyelesaikan masalah konseli, dan membantu dalam membuat keputusan karir
1.        Teknik wawancara
a.    Establishing rappot (menciptakan hubungan baik)
b.    Cultivating self understanding (mengolah pemahaman diri)
c.    Advising or planning a program of action (mempertimbangkan atau merencanakan program pelaksanaan
d.   Carrying out the plan (pelaksanaan rencana)
e.    Referal (pengalih tangan)
Prinsip wawancara konseling trait and factor :
a.       Jangan menceramahi atau mematahkan semangat konseli
b.      Gunakan bahasa yang mudah dipahami dan batasilah informasi yang akan diberikan pada konseli untuk mencari dan berupaya dengan kemampuan yang dimilikinya
c.       Yakinkan bahwa kita tahu tentang apa yang konseli ingin bicarakan sebelum memberikan informasi atau jawaban
d.      Yakinkan bahwa sikap konseli bisa dijadikan pegangan untuk membantu pemecahan masalah
2.        Interpretasi tes
a.    Mengarahkan atau menasehatkan (direct advising)
b.    Persuasi (persuasion)
c.    Penjelasan (explanation)
3.        Informasi pekerjaan (Brayfield: 1950)
a.    Informasi
b.    Penyesuaian kembali
c.    Motivasi
Exploration (Eksplorasi). Konselor menggunakan informasi pekerjaan untuk membantu konseli membuat penelitian yang baik terhadap dunia kerja dari bidang pekerjaan tersebut.
Assurance (Keyakinan). Konselor menggunakan informasi pekerjaan untuk meyakinkan konseli pilihan pekerjaannya cocok atau menghilangkan yang tidak cocok.
Evaluation (Evaluasi). Konselor menggunakan informasi pekerjaan untuk memeriksa keyakinan dan kesinambungan pengetahuan dari konseli tersebut dan pemahamannya dari pekerjaan tersebut atau sejenis.
Startle (mengejutkan). Konselor menggunakan informasi pekerjaan Untuk memeriksa apakah konseli menunjukkan tanda-tanda yakin atau tidak setelah melalui beberapa hal.
Trait and Factor memiliki tujuan untuk mengajak siswa (konseling) untuk berfikir mengenai dirinya serta mampu mengembangkan cara-cara yang dilakukan agar dapat keluar dari masalah yang dihadapinya. TF dimaksudkan agar siswa mengalami:
1.      Self-Clarification / Klarifikasi diri
  1. Self-Understanding / Pemahaman diri
  2. Self-Acceptance / Penerimaan diri





BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Ø  Teori Trait & Factor adalah suatu teori yang berusaha mencocokkan atau menyesuaikan individu dengan suatu  okupasi atau karir tertentu dengan melakukan tes kepribadian atau tes psikologis sehingga seseorang akan mendapatkan okupasi atau pekerjaan sesuai dengan kepribadian yang dimilikinya.
Ø  Beberapa tokoh yang sering dikenal dalam teori trait and factor adalah Walter Bigham, John Darley, Donald G.Paterson dan E.G.Williamson. Dari beberapa pelopor pengembangan teori Trait & factor ini yang paling terkenal ialah E.G.Williamson.
Ø  Menurut teori trait & factor, kepribadian merupakan sistem atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya seperti kecakapan, minat, sikap dan tempramen. Kekuatan teori ini adalah mengungkapkan data tentang potensi yang dimiliki individu dengan berbagai instrumen tes, sehingga data yang didapat cukup valid. Individu juga akan memperoleh berbagai informasi tentang pekerjaan yang dibutuhkannya. Kelemahan teori ini adalah pilihan pekerjaan yang diberikan pada individu hanya satu, sehingga akan timbul kesulitan pada individu tersebut seandainya pekerjaan tersebut tidak diperoleh.

Ø  Berdasarkan persoalan karir yang dialami oleh remaja, teori trait & factor dapat digunakan terhadap semua kasus yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut: termasuk ragam konseling jabatan atau konseling akademik (konseling karier), di mana konseli menghadapi keharusan untuk memilih di antara beberapa alternatif, konseli telah menyelesaikan minimal jenjang pendidikan SMP dan sudah mulai tampak stabil dalam berbagai ciri kepribadian, konseli tidak menunjukkan kelemahan serius dalam beberapa segi kepribadiannya, misalnya selalu ragu-ragu dalam keputusan tentang apa pun juga atau sangat dikuasai oleh alam perasaannya sendiri. metodenya adalah melaui tenkik-teknik sebagai berikut diantaranya adalah wawancara, prosedur interpretasi tes dan menggunakan informasi jabatan/pekerjaan yang selanjutnya akan disusun untuk membantu menyelesaikan masalah konseli, dan membantu dalam membuat keputusan karir
 

Im Counselor Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template