Kamis, 09 Januari 2014
A. Konsep
penelitian tindakan
Penelitian
tindakan berkaitan erat dengan penelitian kualitatif, karena memang dalam pengumpulan
datanya menggunakan pendekatan kualitatif.
Penelitian
tindakan merupakan suatu pencarian sistematik yang dilaksanakan oleh para
pelaksana program dalam kegiatannya sendiri (dalam pendidikan dilakukan oleh
guru, dosen, kepala sekolah, konselor), dalam mengumpulkan data tentang
pelaksanaan kegiatan, keberhasilan dan hambatan yang di hadapi, untuk kemudian
menyusun rencana dan melakukan kegiatan-kegiatan penyempurnaan. Ada beberapa
perbedaan utama dari penelitian tindakan dengan penelitian biasa.
Perbedaan antara Penelitian
Biasa dengan Penelitian Tindakan
|
APA
|
PENELITIAN
BIASA
|
PENELITIAN
TINDAKAN
|
|
SIAPA
|
Dilakukan
oleh para profesor, ahli, peneliti khusus, mahasiswa terhadap kelompok
khusus, kelompok eksperimental dan kontrol.
|
Dilakukan
oleh para pelaksana kegiatan dalam kegiatan yang menjadi tugasnya.
|
|
DIMANA
|
Dalam
lingkungan dimana variabel dapat dikontrol.
|
Di
dalam lingkungan kerja atau lingkungan tugasnya sendiri.
|
|
BAGAIMANA
|
Mengggunakan
pendekatan kuatitatif, menguji signifikansi statistik, hubungan sebab-akibat
antar variabel.
|
Menggunakan
pendekatan kualitatif menggambarkan apa yang sedang berjalan dan ditujukan
untuk mengetahui dampak dari kegiatan yang dilakukan.
|
|
MENGAPA
|
Menemukan
kesimpulan yang dapat digeneralisasikan
|
Melakukan
tindakan dan mendapatkan hasil positif dari perubahan yang dilakukan dalam
lingkungan kerja atau tugasnya.
|
Penelitian
tindakan menggabunngkan kegiatan penelitian atau pengumpulan data dengan
penggunaan hasil penelitian atau pengumpulan data. Kegiatan ini dilakukan
secara timbal balik membentuk spiral: rencana, tindakan, pengamatan dan
refleksi.
Asusmsi
yang mendasari pelaksanaan penelitian tindakan adalah bahwa orang akan
belajardan mengembangkan pengetahuan:
1) Dalam
pengalaman sendiri yang konkrit
2) Melalui
pengamatan dan refleksi dalam pengalaman tersebut.
3) Melalui
pembentukan konsep abstrak dan generalisasi.
4) Dengan
menguji implikasi konsep dalam situasi baru.
B. Pengertian
PTK
Penelitian
tindakan kelas merupakan salah satu penelitian yang sedang diminati khususnya
oleh para guru karena penelitian ini dapat dilaksanakan tenpa harus
meninggalkan tugas guru sebagai pendidik. Bahkan sebenarnya guru telah
melaksanakan jenis penelitian ini hanya saja mereka beum mendokumentasikannya
secara baik.
Berikut
ini pengertian PTK menurut beberapa ahli:
1. Menurut
Kemmis & Taggart (1988) penelitian tindakan adalah studi yang dilakukan
untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri, tetapi dilaksanakan
secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri.
2. Hopkins
(1993) penelitian tiindakan kelas atau classroom action research merupakan
kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan oleh
sekelompok masyarakat melalui tindakan praktis yang mereka lakukan dan
merefleksi hasil tindakannya.
3. Suwarsih
Madya (1998) penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang
di tunjukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang
dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang
menjadi tanggung jawabnya dan itu disebut “penelitian tindakan kelas” atau PTK.
4. Dalam bahasa Inggris Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
diartikan dengan ClassroomAction Research (CAR). Dari sisi namanya sudah
menunjukkan isi yang terkandung didalamnya. Karena itu Arikunto, dkk (2006), Aqib
(2007), Madya (2006) mengemukakan bahwa ada tiga kata yang membentuk pengertian
tersebut, yaitu (1) penelitian, (2) tindakan, dan (3) kelas. Sehubungan dengan
itu, maka Arikunto dkk (2006) mengartikan penelitian tindakan kelas sebagai
suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang
sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Karena itu
penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan
situasi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
5. Hal tersebut
sejalan dengan Burns, (1999); Kemmis & McTaggrt (1982); Reason &
Bradbury (2001) dalam Madya (2007) yang menjelaskan bahwa penelitian tindakan
merupakan intervensi praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan
situasi praktis. Karena itu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru
ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggung
jawabnya dan ia disebut ”penelitian tindakan kelas” atau PTK. Sehubungan dengan itu, maka pertanyaan yang
muncul adalah ”Kapan seorang guru secara tepat dapat melakukan PTK?” Jawabnya:
Ketika guru ingin meningkatkan kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung
jawabnya dan sekaligus ia ingin melibatkan peserta didiknya dalam proses
pembelajaran. Karena itu,
C. Fungsi
penelitian tindakan kelas
fungsi PTK sebagai alat untuk meningkatkan kualitas
pelaksanaan pembelajaran kelas, yaitu sebagai: (a) alat untuk mengatasi
masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat
pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan 198 Pendidikan dan Latihan
Profesi Guru (PLPG) Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24 Universitas Negeri
Makassar keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri,
khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem
yang ada (secara alami) pendekatan tambahan atau inovatif; (d) alat untuk
meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e) alat
untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik
terhadap pemecahan masalah kelas (Cohen & Manion, dalam Madya, 2007). Hal
tersebut dapat dilakukan oleh guru karena: (1) hasil penelitian tindakan
dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang
menginginkannya; (2) penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang
pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung
diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait; (3) peneliti tindakan (guru)
melakukan sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan.
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan kelas
Tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk
memperbaiki dan meningkatkanpraktik pembelajaran di kelas secara
berkesinambungan. Tujuan ini “melekat” pada diriguru dalam penunaian misi
professional kependidikannya (Aqib, 2007). Hal inimenunjukkan bahwa
sesungguhnya PTK bertujuan untuk memecahkan permasalahan nyatayang terjadi di
dalam kelas. Karena itu menurut Suharjono (2006), tujuan penelitian tindakan kelas
adalah meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, mengatasi masalah pembelajaran,
meningkatkan profesionalisme, dan menumbuhkan budaya akademik.
Sedangkan Arikunto (2006) merinci tujuan PTK, yaitu:
(1) meningkatkan mutu isi, masukan,proses, serta hasil pendidikan dan
pembelajaran di sekolah; (2) membantu guru dan tenaga kependidikan lainna
mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan di luar kelas; (3)
meningkatkan sikap professional pendidik dan tenaga kependidikan; (4) menumbuhkembangkan
budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam
melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka manfaat yang
dapat diperoleh jika guru maudan mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas,
antara lain: (1) inovasi pembelajaran, (2) pengembangan kurikulum di tingkat
sekolah dan di tingkat kelas, dan (3) peningkatanproresionalisme guru (Aqib,
2007).
Sejalan dengan itu, Rustam dan Mundilarto (2004)
mengemukakan manfaat PTK bagiguru, yaitu: (1) Membantu guru memperbaiki mutu
pembelajaran, (2) Meningkatkan profesionalitas guru, (3) Meningkatkan rasa
percaya diri guru, (4) Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan
dan keterampilannya.
E. Karakteristik PTK
Karakteristik
PTK meliputi: (1) dirancang untuk mengatasi permasalahn nyata, (2) diterapkan
secara kontekstual, (3) terarah pada peningkatan kinerja guru di kelas, (4)
bersifat fleksibel, (5) data diperoleh langsung dari pengamatan atas perilaku
dan refleksi, (6) bersifat situasional dan spesifik (Natawidjaya, 1997)
F. Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling
Konsep penelitian tindakan merupakan terjemahan dari
action research, yang secara sederhana diartikan sebagai bentuk penelitian terhadap
suatu tindakan yang telah dilaksanakan sesuai dengan rancangan. Istilah
penelitian mengandung makna sebagai upaya mencermati sesuatu, dalam hal ini suatu
tindakan yang dirancang dan dilaksanakan secara cermat untuk mengatasi suatu
permasalahan yang dihadapi.
Kegiatan penelitian tindakan (action research) pada
awalnya dilakukan di dunia industri, ditujukan untuk memperbaiki kinerja para karyawan
sehingga diharapkan produktivitas meningkat. Proses action research pada seting
industri telah menunjukkan hasil yang luar biasa, yakni meningkatnya kinerja
para karyawan yang disertai dengan peningkatan produktivitas kerjanya. Bertolak
dari keberhasilan ini, gagasan action research diangkat dan diterapkan dalam
dunia pendidikan dengan sebutan classroom action research, yakni suatu penelitian
tindakan (action research) yang dilaksanakan di kelas.
1) Makna penelitian tindakan (action research) dalam
seting pendidikan
dijelaskan oleh McNiff (1991) sebagai berikut: Action
research is a form of self-reflective inquiry undertaken by participants
(teachers, students or principals, for example) in social (including
educational) situations in order to improve the rationality and justice of (1)
their own social or educational practices, (2) their understanding of these practices,
and (3) the situations (and institutions) in which the practices are carried
out.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dirumuskan
beberapa
bebepara ide pokok tentang penelitian tindakan, yaitu
:
1) Penelitian tindakan merupakan suatu bentuk inkuiri
atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri.
2) Penelitian tindakan dilakukanoleh peserta yang
terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa atau kepala sekolah.
3) Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial,
termasuk situasi pendidikan.
4) Tujuan penelitian tindakan adalah untuk memperbaiki
: dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap
praktik tersebut, dan situasi atau lembaha tempat praktik tersebut
dilaksanakan.
Berdasarkan gagasan di atas, maka penelitian tindakan
itu merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri
sebagai metode utamanya, dilakukan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya,
dan bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek (Wardhani, 2008:
1.4).
PTBK adalah suatu penelitiian yang melibatkan peneliti
secara langsung kepada subjek penelitian.
Penelitian tindakan BK ini bertipe tindakan kemitraan atau
penelitiankolaboratif. Kolaboratif yang dilakukan adalah berupa bentuk kerja
sama antara guru pembimbing atau konselor sebagai pelaksana tindakan dan
peneliti dalam hal ini adalah sebagai pengumpul data.
Senada dengan pengertian tersebut, Mills (2000) mendefinisikan
penelitian tindakan sebagai “systematic inquiry” yang dilakukan oleh guru,
kepala sekolah, atau konselor sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang
berbagai praktik yang dilakukannya. Informasi ini digunakan untuk meningkatkan
persepsi serta mengembangkan “reflective practice” yang berdampak positif dalam
berbagai praktik persekolahan, termasuk memperbaiki hail belajar siswa.
(Wardhani, 2008: 1.4).
Mengacu pada pengertian penelitian tindakan di atas,
dapat
dirumuskan makna penelitian tindakan kelas sebagai
penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri, melalui refleksi
diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar
siswa meningkat. Pada seting bimbingan dan konseling,
penelitian tindakan itu dilaksanakan oleh guru pembimbing atau konselor sekolah
di dalam kelasnya (bimbingan dan konseling kelompok atau bimbingan klasikal)
dan secara invidual dengan konseli, melalui refleksi diri sebagai teknik
utamanya, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar
konseli meningkat – yakni timbulnya perubahan perilaku dan pribadi konseli ke
arah yang lebih baik.
2) Karakteristik Penelitian Tindakan Bimbingan dan
Konseling
Berdasarkan makna penelitian tindakan seperti
dipaparkan di atas, dapat dirumuskan karakteristik penelitian tindakan
bimbingan dan konseling sebagai berikut:
1) Merupakan penelitian kolaborasi peneliti dengan
teman sejawat/guru/praktisi pada semua langkah penelitian.
2) Fokus pada pemecahan masalah praktik bimbingan dan
konseling di dalam kelas maupun secara individual.
3) Partisipatori: melibatkan semua pelaksana program
yang akan diperbaiki termasuk subyek penelitian.
4) Pelaksanaan penelitian melalui spiral refleksi diri
(self-reflective) yakni guru pembimbing atau konselor sekolah mengumpulkan data
dari praktiknya sendiri melalui refleksi: mengingat apa yang dikerjakannya di
kelas atau terhadap konseli secara individual, apa dampak tindakan tsb. bagi
konseli, mengapa dampaknya seperti itu, apa kekuatan dan kelemahan tindakan
seperti itu, kemudian mencoba (tindakan) memperbaiki kelemahan itu, dst.
5) Bertujuan untuk memperbaiki proses bimbingan dan
konseling, dilakukan bertahap dan terus-menerus selama kegiatan penelitian dilakukan ada siklus : perencanaan (planning )
tindakan pelaksanaan (acting) pengamatan (observing ) refleksi (reflecting
) revisi (perencanaan ulang tindakan bimbingan dan konseling).
3) Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Bimbingan dan
Konseling
1) Kegiatan penelitian dilakukan dalam situasi rutin
penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di sekolah
2) Dilandasi kesadaran bahwa manusia tidak ada yang
sempurna, sehingga perlu selalu memperbaiki diri.
3) Penelitian dilakukan atas dasar hasil analisis SWOT
terhadap pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
4) Penelitian merupakan upaya pemecahan masalah
berdasarkan pengalaman Guru Pembimbing atau Konselor Sekolah dan bersifat sistemik.
5) Dalam perencanaan penelitian tindakan selalu harus memperhatikan
prinsip SMART.
a) Specific, yaitu permasalahan dan tindakannya khusus
atau tertentu.
b) Managable, yaitu dapat dilaksanakan oleh guru
pembimbing atau konselor sekolah.
c) Acceptable, yaitu dapat diterima oleh khalayak atau
anggota profesi bimbingan dan konseling.
d) Realistic, yaitu terdukung sumber daya yang
tersedia, baik sumber daya manusia (guru pembimbing atau konselor sekolah) maupun
sarana/prasarana.
e) Time-bound, yaitu ada batasan waktu pelaksanaan
kegiatan minimal 2 siklus, lajimnya antara 3 – 5 siklus.
Prinsip PTBK
1.Tidak menganggu komitmen konselor sebgai pendidik.
2.Pengumpulan data tidak menuntut waktu berlebihan
sehingga tidak mengganggu KBM.
3.Metodologi yang digunakan taat azas PTBK.
4.Masalahnya muncul dari guru pembimbing atau konselor
yang paling merisaukan.
5.Konsisten dan peduli terhadap prosedur.
6.Tidak mengenal kelompok eksperimen ataupun kontrol.
4) Langkah-langkah Penelitian Bimbingan dan Konseling
Penelitian tindakan bimbingan dan konseling ditempuh
seperti halnya
penelitian tindakan kelas, yakni dilaksanakan melalui
proses pengkajian berdaur atau bersilus, yang terdiri atas empat tahap, yaitu:
(1) perencanaan (planning), (2) melaksanakan tindakan
(acting), (3)
pengamatan/pengumpulan data (observing), dan (4)
melakukan
refleksi (reflecting), kemudian ada revisi
(perencanaan ulang tindakan bimbingan dan konseling). Revisi ini pada dasarnya
merencanakan kegiatan siklus berikutnya. Hal ini dilakukan dengan mengacu pada hasil
refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan pada siklus terdahulu. Revisi
dilakukan jika ternyata tindakan yang dilakukan belum berhasil memperbaiki
praktik atau memecahkan masalah yang menjadi kerisauan guru pembimbing atau
konselor sekolah. Dalam praktiknya, setiap tahap kegiatan pada siklus
penelitian tindakan dapat terdiri atas atau didahului oleh beberapa langkah
kegiatan. Namun secara operasional, prosedur
perencanaan dan pelaksanaan penelitian tindakan ditempuh dengan empat langkah utama,
yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, (2) menganalisis dan merumuskan masalah,
(3) merencanakan penelitian tindakan, dan (4) melaksanakan penelitian tindakan
(Wardhani, 2008: 2.4). Dalam
penelitian tindakan bimbingan dan konseling, keempat
langkah
tersebut diuraikan sebagai berikut.
1) Identifikasi masalah
Penelitian tindakan bimbingan dan konseling bertolak
dari keresahan yang dirasakan oleh Guru Pembimbing atau Konselor Sekolah
tentang praktik pelayanan bimbingan dan konseling kepada konseli. Apa yang
terjadi ketika Guru melaksanakan praktik pelayanan bimbingan dan konseling ? Pertanyaan
ini merupakan langkah awal atau Refleksi awal dalam suatu proses penelitian tindakan
bimbingan dan konseling. Dari pertanyaan tersebut kemudian berlanjut pada
pertanyaan berikut: Masalah apa yang ditimbulkan oleh kejadian itu ? Apa pengaruh
masalah tersebut terhadap konseli atau kelas (kelompok konseli) ? Apa yang akan
terjadi jika masalah tersebut dibiarkan ? Apa yang dapat dilakukan untuk
mengatasi masalah atau kejadian
tersebut ?Proses identifikasi masalah atau refleksi
awal penelitian tindakan difokuskan pada proses pelayanan bimbingan dan
konseling sesuai dengan bidang layanannya. Identifikasi dapat difokuskan pada empat
pilar layanan bimbingan dan konseling (Ditjen PMPTK Depdiknas, 2007: 40-45),
yaitu meliputi program:
a) pelayanan dasar, mencakup bimbingan klasikal,
pelayanan orientasi, pelayanan informasi, bimbingan kelompok, dan pelayanan
pengumpulan data (apliaksi instrumentasi).
b) Pelayanan responsif, mencakup konseling individual
dan kelompok, referal (rujukan atau alih tangan), kolaborasi dengan guru mata
pelajaran atau wali kelas, kolaborasi dengan orang tua, kolaborasi dengan pihak-pihak
lain di luar sekolah, konsultasi, bimbingan teman sebaya, konferensi kasus, dan
kunjungan rumah.
c) Perencanaan individual, di sini konselor membantu
peserta didik menganalisis kelebihan dan kekurangan dirinya berdasarkan data
atau informasi yang diperoleh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar
maupun karir. Konseli menggunakan informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan
dan karir yang diperolehnya untuk: (1) merumuskan tujuan, dan merencanakan
kegiatan (alternative kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan
yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya, (2) melakukan kegiatan yang
sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3)
mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya. d) Dukungan sistem, mencakup
pengembangan profesi dan manajemen program
2) Analisis dan perumusan masalah
Masalah yang teridentifiksasi selanjutnya dianalisis,
sehingga dapat dirumuskan masalah penelitian tindakan bimbingan secara jelas.
Agar analisis tepat perlu didukung oleh data atau informasi yang memadai,
sehingga guru pembimbing atau konselor sekolah perlu mengkaji ulang berbagai dokumen
yang ada. Proses analisis masalah ini sebenarnya masih kelanjutan dari kegiatan
refleksi, yang lebih difokuskan pada menemukan faktor penyebab dan kemungkinan
upaya/tindakan/pelayanan bimbingan dan konseling yang dapat diterapkan untuk
mengatasinya. Berdasarkan hasil analisis masalah tersebut, kemudian dirumuskan masalah
penelitian tindakan bimbingan dan konseling dalam bentuk pernyataan atau
(seringkali) pertanyaan.
3) Merencanakan penelitian (perbaikan) tindakan
Rencana penelitian tindakan bimbingan dan konseling
disebut juga rencana perbaikan pelayanan bimbingan dan konseling. Rencana perbaikan
yang akan dilakukan sebaiknya dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan. Hipotesis
ini menggambarkan bahwa tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan konseling
yang dipilih tersebut dapat memperbaiki/mengatasi permasalahan yang dihadapi.
Tindakan (perbaikan) yang dipilih dapat berupa strategi, pendekatan, metode atau
teknik-teknik dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Cara perbaikan atau
tindakan pelayanan bimbingan dan konseling tersebut dikembangkan sesuai dengan konsep
teoretis yang mendasarinya, kemampuan dan komitmen guru pembimbing atau
konselor sekolah, karakteristik konseli, sarana dan prasarana sebagai media
pelayanan yang tersedia, dan nuansa pelayanan bimbingan dankonseling di sekolah
tersebut.
4) Melaksanakan penelitian tindakan
Pelaksanaan tindakan (perbaikan) dimulai dengan
mempersiapkan rencana pelayanan dan skenario tindakan/pelayanan bimbingan dan
konseling, serta menyiapkan kelengkapan pendukung yang dapat mempermudah
pelaksanaan, perekaman/pengamatan proses maupun hasil, dan pelaporannya.
5) .Instrumen Observasi dan Evaluasi Tindakan
Bimbingan dan Konseling
Keberhasilan tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan
dan konseling dapat diketahui melalui: (1) hasil pengamatan terhadap kinerja
guru dalam melakuakan tindakan yang dilakukan oleh teman sejawat, (2) perubahan
perilaku konseli selama proses, dan (3) hasil akhir yang ditunjukkan oleh
perubaha perilaku konseli setelah mengikuti proses pelayanan bimbingan dan
konseling. Pengamatan oleh teman sejawat dan tentang kinerja guru/konselor dan
perubahan perilaku konseli selama proses pelayanan menggunakan pedoman
pengamatan; sedangkan hasil akhir tinadakan (perbaikan) pelayanan diperoleh
melalui evaluasi akhir pelayanan bimbingan dan konseling.
6) Evaluasi/refleksi pelaksanaan Tindakan Bimbingan
dan Konseling
Evaluasi atau refleksi pelaksanaan tindakan didasarkan
pada data atau informasai berikut: (1) hasil pengamatan teman sejawat terhadap
kinerja (tindakan) guru pembimbing/konselor, (2) hasil pengamatan perubahan perilaku
konseli selama proses tindakan, dan (3) hasil akhir berupa perubahan perilaku
konseli setelah mengikuti tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan
konseling.
7) Merancang Perbaikan Tindakan Bimbingan dan
Konseling
Kegiatan ini dimaksudkan untuk merancang perbaikan
tindakan bimbingan dan konseling siklus kedua. Tentu saja, rancangan perbaikan tindakannya
sangat bergantung pada hasil evaluasi/rekleksi pelaksanaan tindakan bimbingan
dan konseling pada siklus pertama. Oleh karena itu, rancangan tindakan
(perbaikan) siklus kedua bersifat menyempurnakan rencana tindakan (perbaikan) pelayanan
bimbingan dan konseling siklus pertama.
Daftra pustaka
Arikunto, Suharsimi dkk.2006. Penelitian Tindakan
Kelas. Bumi Aksara. Jakarta.
Aswandi. 2006. Guru Sebagai Peneliti.
http://www.pontianakpost.com/. Diakses, 15
Nopember 2007.
Aqib, Zainal.2007. Penelitian Tindakan Kelas. YRama
Widya. Bandung.
Madya, Suwarsih. 2006. Teori dan Praktek Penelitian
Tindakan Kelas (Action Research). Alfabeta.
Bandung.
Andayani dkk. (2008). Pemantapan Kepampuan
Profesional. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Ditjen PMPTK Depsiknas. (2008). Rambu-rambu
Penyelenggaraan Bimbingan
dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta:
Depdiknas.
Mills, G.E. (2000). Action Research: A Guide for the
Teacher Reseascher.
Columbus: Merrill, An Imprint of Prentice-Hall.
McNiff, J. (1991). Action Research: Principles and
Practice. London:
Macmillan.
McNiff, J. & Whitehead, J. (2006). All You Need
Know About Action Research.
London: Sage Publication.
Raka Joni, T., Kardiawarman, dan Hadisubroto, T.
(1998). Penelitian Tindakan
.
Author: Unknown
|
at:00.39
|
Category :
MATERI,
materi tik
|
teknologi informasi dan komunikasi ppt disini
Author: Unknown
|
at:00.37
|
Category :
materi tik
|
komponen - komponen dan data komputer ppt disini
pengkajian dan pembahasan tentang program pemerintah dan swasta dalam implementasi tik untuk bk ppt disini
Rabu, 08 Januari 2014
Sabtu, 04 Januari 2014
Pengertian Psikologi Komunitas
Di Indonesia Psikologi Komunitas dibahas sebagai “Kesehatan Masyarakat” dalam disiplin ilmu kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Psikologi Komunitas juga merupakan subbagian dalam Psikologi Sosial, Sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tapi dalam hal ini Psikologi Komunitas akan diuraikan sebagai suatu kegiatan yang berkaitan dengan memberi bantuan kepada orang lain dalam hal gangguan emosional, penyesuaian diri dan masalah-masalah psikologis lainnya.
Dalam pendekatan psikologi klinis, treatment diberikan kepada seseorang atau kelompok yang mengalami gangguan atau yang memiliki masalah dan klien menerima treatment tersebut. Kenyataannya seringkali sulit untuk memastikan siapa yang memerlukan terapi atau bantuan psikologis. Dilihat dari pandanan sosiokultual, lingkungan sosio kltural dan interaksinya dengan subjek atau sekelompok subjeklah penyebab munculnya gangguan jiwa, hal ini dikarenakan tuntutan sosial kepada subjek untuk mengikuti kondisi yang berlaku misalnya norma sosial, dan lainnya.
Banyak perubahan-perubahan dalam tatanan masyarakat sekarang ini yang menyebabkan banyaknya muncul gejala-gejala sosial seperti kemiskinan, kekumuhan, polusi udara, pengungsian penduduk bahkan bencana alam sangat memungkinkan munculnya ancaman gangguan-gangguan psikologis terutama dalam hal gangguan emosional. Kondisi ini membutuhkan suatu pendekatan yang tidak menggunakan cara tradisional dari psikologi klinis, tetapi membutuhkan sutau pendekatan menyeluruh yakni pendekatan komunitas.
Psikologi komunitas pada dasarnya terkait dengan hubungan antar sistem sosial, kesejahteraan dan kesehatan individu dalam kaitan dengan masyarakat. Psikologi komunitas didefinisikan sebagai sutau pendekatan kepada kesehatan mental yang menekankan pada peran daya lingkunan dalam menciptakan masalah atau mengurangi masalah. Psikologi komunitas berfokus pada arah permasalahan kesehatan mental dan sosial yang dikembangkan melalui intervensi juga riset dengan setting mencakup masyarakat dan komunitas pribadi.
Seorang ahli yang bernama Rapaport mengemukakan bahwa pespektif dari psikologi komunitas memberikan perhatian pada tiga hal utama yakni (Phares,1992):
- Pengembangan sumber daya individu.
- Aktivitas politik.
- Ilmu Pengetahuan.
Adapun mengenai bentuk penekanan pendekatan kesehatan mental komunitas menurut Bloom (dalam Phares,1992) ada lima : Intervensi dalam komunitas, penekanan pencegahan,intervensi dalam komunitas dilakukan dalam populasi yang terbatas, promosi dalam pelayanan tak lamgsung misalnya melalui pelatihan dan pemberdayaan, pelaksanaan yang dilakukan oleh ahli dari berbagai bidang ilmu.
Ada beberapa konsep yang sangat melekat pada pendekatan psikologi komunitas, yakni pada :
· Pencegahan. Pencegahan dari gangguan psikologis bertujuan untuk menghemat biaya perawatan penderita. Terdiri dari tiga yakni pencegahan primer, sekunder dan tertier.
· Pemberdayaan manusia. Pemberdayaan manusia dalam masyarakat bertujuan untuk mempertahankan kesehatan dan mencegah munculnya gangguan-gangguan psikologis.
A. Fokus dalam strategi intervensi
Price dkk (dalam Phares,1992) mengemukakan perbandingan antara orientasi klinis dan orientasi komunitas dalam strategi komunitasnya. Orientasi klinis memperhatikan bagaimana mengatasi gangguan pada tingkat individual, organisasi,dan komunitas. Orientasi komunitas disisi lain mengutamakan peningkatan kompetensi.
B. Metode intervensi dan perubahan dalam pendekatan komunitas (korchin, 1976)
· Konsultasi
· Mengadakan layanan masyarakat
· Intervensi krisis
· Intervensi pada usia dini
· Pengembangan berbagai program pelatihan upaya pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan membuat tulisan singkat tentang upaya yang cepat untuk mengatasi berbagai keadaan darurat misal kecemasan dan mengatasi stress
PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN PSIKOLOGI KOMUNITAS
Prinsip dasar yang perlu diperhatikan program pengembangan komunitas :
1) Pengembangan komunitas pada dasarnya merupakan sebuah proses pengorganisasian masyarakat yang harus dilaksanakan secara sistematis
2) Perorganisasian masyarakat hendaknya dipertimbangan dan diterjemahkan dalam tindakan prinsip : collective interest, targets, action, action plan, contribution.
3) Kegiatan dalam pengembangan komunitas perlu mengutamakan partisipasi anggota komunitas
Prevensi terdiri tiga macam:
1) Prevensi primer
2) Prevensi sekunder
3) Prevensi tersier
Prinsip utama psikologi komunitas dalam aplikasi dan peranannya Nietzel dkk (sunberr,2002) :
1) Psikologi komunitas tidak lagi memandang perilaku hanya ditentukan oleh faktor biologis
2) Psikologi komunitas memandang bahwa yang bersifat intervensi dan pencegahan perlu dilakukan di tempat orang yang tinggal dalam komunitas
3) Kegiatan intervensi untuk meningkatkan kesehatan mental dan kegiatan pencegahan gangguan sosial psikologis tidak lagi ditunjukkan bagi perubahan perseorangan namun perubahan sistem sosial.
Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar
Menurut Webster diagnosis yaitu proses
menentukan hakekat daripada kelainan atau ketidakmampuan dengan ujian dan
melalui ujian tersebut dilakukan suatu penelitian yang hati-hati terhadap fakta-fakta
untuk menentukan masalahnya. Sedangkan menurut Harriman dalam bukunya Handbook
of Psychological Term, diagnosis adalah suatu analisis terhadap kelainan atau
salah penyesuaian dari simptom-simptomnya. Dapat disimpulkan bahwa diagnosis
adalah suatu cara menganalisis suatu kelainan dengan mengamati gejala-gejala
yang Nampak dan dari gejala tersebut dicari factor penyebab kelainan tadi.
Kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada anak ditandai adanya prestasi atau hasil belajar yang rendah serta berada di bawah norma yang ditetapkan.
Blassic dan Jones mengatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yan diharapkan dengan prestasi akademik yang nampak sekarang (prestasi aktual). Anak yang mengalami kesulitan belajar itu adalah anak yang mempunyai intelegensi normal, tapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar.
Kesulitan atau hambatan dalam kegiatan belajar bersifat fisiologis, psikologis, dan sosial.
Kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada anak ditandai adanya prestasi atau hasil belajar yang rendah serta berada di bawah norma yang ditetapkan.
Blassic dan Jones mengatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yan diharapkan dengan prestasi akademik yang nampak sekarang (prestasi aktual). Anak yang mengalami kesulitan belajar itu adalah anak yang mempunyai intelegensi normal, tapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar.
Kesulitan atau hambatan dalam kegiatan belajar bersifat fisiologis, psikologis, dan sosial.
Teori Trait & Factor
Pengertian Teori Trait & Factor
Trait adalah suatu ciri yang khas
bagi seseorang dalam berpikir, berperasaan, dan berperilaku seperti intelegensi
(berpikir), iba hati (berperasaan), dan agresif (berprilaku). Jadi, Teori Trait
& Factor adalah suatu teori yang berusaha mencocokkan atau menyesuaikan
individu dengan suatu okupasi atau karir tertentu dengan melakukan tes
kepribadian atau tes psikologis sehingga seseorang akan mendapatkan okupasi
atau pekerjaan sesuai dengan kepribadian yang dimilikinya.
Konsep Teori Trait
& Factor
Menurut teori ini kepribadian
merupakan sistem atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya
seperti kecakapan, minat, sikap dan tempramen. Beberapa tokoh yang sering
dikenal dalam teori trait and factor adalah Walter Bigham, John Darley, Donald
G.Paterson dan E.G.Williamson.
Dari beberapa pelopor pengembangan
teori Trait & factor ini yang paling terkenal ialah E.G.Williamson, teori ini juga dikenal dengan directive
counseling atau Counseling-Centered
Counseling , karena konselor secara sadar mengadakan strukturalisasi dalam
proses konseling dan berusaha mempengaruhi arah perkembangan konseli demi
kebaikan konseling sendiri. Teori ini menilai tinggi kemampuan manusia untuk
berpikir rasional dan memandang masalah konseli sebagai problem yang harus
dipecahkan dengan menggunakan kemampuan itu (problem-solving approach).
Dalam segi teoritis dan dalam segi
pendekatannya,teori ini bersumber pada gerakan bimbingan jabatan, sebagaimana
dikembangkan di Amerika Serikat sejak
awal abad yang ke-20.
Dalam bukunya yang berjudul Vocation Counseling (1965) Williamson
menguraikan sejarah perkembangan bimbingan jabatan dan proses lahirnya
konseling jabatan yang berpegang pada teori Trait-Factor.Pada
akhir abad yang ke-19 Frank Parsons mulai mencari suatu cara untuk membantu
orang-orang muda dalam memilih suatu bidang pekerjaan yang sesuai dengan
potensi mereka, sehingga cukup berhasil di bidang pekerjaan itu. Dalam bukunya Choosing a Vocation (1909), Frank
Parsons menunjukkan tiga langkah yang harus diikuti dalam memilih suatu
pekerjaan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki,yaitu :pertama, pemahaman diri yang jelas mengenai kemampuan otak, bakat, minat,
berbagai kelebihan dan kelemahan, serta ciri-ciri yang lain dalam dirinya. Kedua, pengetahuan tentang semua persyaratan
yang harus dipenuhi supaya dapat mencapai sukses dalam berbagai bidang
pekerjaan,serta tentang balas jasa dan kesempatan untuk maju dalam semua bidang
pekerjaan itu. Ketiga, berpikir
secara rasional mengenai hubungan antara kedua kelompok diatas. Jadi, pada
langkah pertam, individu menggunakan analisis diri, pada langkah yang kedua individu
memanfaatkan informasi jabatan (vocational
information) yang ia peroleh serta pada langkah yang ketiga, individu dapat
menerapkan kemampuan untuk berpikir rasional agar dapat menemukan kecocokan
antara ciri-ciri kepribadian yang dimiliki mempunyai relevansi terhadap
kesuksesan atau kegagalan suatu pekerjaan / jabatan dengan tuntutan klasifikasi
dan kesempatan yang terkandung dalam suatu pekerjaan atau jabatan.Dengan
demikian, individu tidak asal mencari pekerjaan semata (the hunt of a vocation).
Namun prosedur yang digunakan oleh
Frank Parsons untuk menemukan fakta dalam rangka langkah kerja, pada langkah
pertama dan kedua ternyata tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan dari
segi analisis psikologi dan sosial secara ilmiah.Tekanan pada studi psikologi
terhadap masing-masing orang dalam suatu klinik psikologis,dengan menggunakan
alat-alat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,menjadi ciri khas dari
aliran konseling yang kemudian disebut Konseling
Klinikal .Corak konseling yang berpegang pada teori Trait-Factor berkembang
dalam rangka konsepsi aliran Konseling Klinikal.Oleh karena itu,pendekatan
konseling Trait-Factor dalam beberapa
buku dinamakan Konseling Klinikal.
Alat yang digunakan untuk
mempelajari keadaan seseorang sehingga menghasilkan suatu analisis bagi
masing-masing pribadi adalah tes-tes psikologis yang mula-mula digunakan oleh
para ahli psikologi industri dalam rangka seleksi untuk bidang-bidang pekerjaan
tertentu. Berdasarkan identifikasi berbagai kemampuan yang dimiliki atau tidak
dimiliki seseorang setelah dites dan bedasarkan penelitian terhadap tuntutan
pekerjaan di lapangan untuk mengetahui kemampuan mana yang harus dimilki
seseorang supaya berhasil dalam suatu jenis pekerjaan tertentu. Ahli-ahli
psikologi industri itu menyusun tabel-tabel prakiraan sukses atau gagalnya
seorang aplikan dalam jenis pekerjaan tertentu.Cara berfikir yang demikian
mulai diikuti juga oleh konselor jabatan dengan menekankan penggunaan tes-tes
psikologis sebagai alat untuk mengidentifikasi ciri-ciri kepribadian seseorang
yang mempunyai relevansi terhadap suatu jabatan atau pekerjaan.Dalam hal ini
aliran konseling jabatan berpegang pada teori kepribadian yang dikenal dengan
nama teori Trait-factor.
Teori Trait –Factor adalah
pandangan yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang dapat dilukiskan dengan
mengidentifikasikan sejumlah ciri,sejauh tampak dari hasil testing psikologis
yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian itu. Konseling Trait-Factor berpegang pada pandangan
yang sama dan menggunakan tes-tes psikologis untuk menganalisis seseorang
mengenai ciri-ciri kepribadian tertentu,yang diketahui mempunyai relevansi
terhadap keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam memangku jabatan dan
mengikuti suatu program studi. Dalam hal ini program studi di instutusi
pendidikan juga dipandang sebagai “jabatan”, sehingga akan diikuti prosedur
yang sama terhadap pilihan bidang pekerjaan dan bidang studi.Dengan
demikian,aliran konseling jabatan telah memperluas diri menjadi Konseling Jabatan-Akademik,yang dewasa
ini sering disebut Konseling Karier.
Ada beberapa asumsi pokok yang
mendasari teori konseling trait and factor, adalah:
1. Kecapakan
dan kemampuan individu bersifat unik dan beragam, maka tes objektif dapat
digunakan untuk mengindentifikasi karakteristik tersebut.
2. Pola-pola
kepribadian dan minat berkorelasi dengan perilaku kerja tertentu.
3. Kurikulum
sekolah yang berbeda akan menuntut kapasitas dan minat yang berbeda.
4. Baik
siswa maupun konselor hendaknya mendiagnosa potensi siswa untuk mengawali
penempatan dalam belajar dan pekerjaan.
5. Setiap
orang memiliki kecakapan dan keinginan untuk mengindentifikasi secara kognitif
kemampuan sendiri.
Kekuatan teori ini adalah
mengungkapkan data tentang potensi yang dimiliki individu dengan berbagai
instrumen tes, sehingga data yang didapat cukup valid. Individu juga akan
memperoleh berbagai informasi tentang pekerjaan yang dibutuhkannya.
Kelemahan teori ini adalah pilihan
pekerjaan yang diberikan pada individu hanya satu, sehingga akan timbul
kesulitan pada individu tersebut seandainya pekerjaan tersebut tidak diperoleh.
Aplikasi Teori Trait
& Factor dalam Bimbingan dan Konseling
Perkembangan
karir merupakan proses yang bermula dari masa anak-anak sampai lanjut usia.
Dalam setiap tahap perkembangan karir, setiap individu memiliki tingkat
kematangan yang bersamaan dengan persiapan karir. Karena itu pada setiap tahap
perkembangan karirnya, setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan karir.
Pada usia remaja tugas perkembangan karir yang penting adalah mempersiapkan
diri memasuki karir. Dalam tugas itu remaja sudah mulai melakukan pemilihan dan
perencanaan karir. Namun masih terdapat beberapa persoalan yang dialami remaja
dalam menentukan karirnya. Di sekolah, tugas perkembangan karir remaja juga
merupakan bagian pelayanan bimbingan konseling. Sehubungan dengan persoalan
perkembangan karir remaja, keberadaan bimbingan konseling sekolah sangat tepat untuk
membantu siswa dalam memilih dan merencanakan karirnya.
Berdasarkan persoalan karir yang dialami oleh remaja, teori
trait & factor dapat digunakan terhadap semua kasus yang mengandung
unsur-unsur sebagai berikut: termasuk ragam konseling jabatan atau konseling
akademik (konseling karier), di mana konseli menghadapi keharusan untuk memilih
di antara beberapa alternatif, konseli telah menyelesaikan minimal jenjang
pendidikan SMP dan sudah mulai tampak stabil dalam berbagai ciri kepribadian,
konseli tidak menunjukkan kelemahan serius dalam beberapa segi kepribadiannya,
misalnya selalu ragu-ragu dalam keputusan tentang apa pun juga atau sangat
dikuasai oleh alam perasaannya sendiri. metodenya adalah melaui
tenkik-teknik sebagai berikut diantaranya adalah wawancara, prosedur
interpretasi tes dan menggunakan informasi jabatan/pekerjaan yang selanjutnya
akan disusun untuk membantu menyelesaikan masalah konseli, dan membantu dalam
membuat keputusan karir
1.
Teknik wawancara
a. Establishing rappot (menciptakan
hubungan baik)
b. Cultivating self understanding
(mengolah pemahaman diri)
c. Advising or planning a program of
action (mempertimbangkan atau merencanakan program pelaksanaan
d. Carrying out the plan (pelaksanaan
rencana)
e. Referal (pengalih tangan)
Prinsip wawancara konseling trait and factor :
a.
Jangan menceramahi atau mematahkan semangat konseli
b. Gunakan bahasa yang mudah dipahami
dan batasilah informasi yang akan diberikan pada konseli untuk mencari dan
berupaya dengan kemampuan yang dimilikinya
c. Yakinkan bahwa kita tahu tentang apa
yang konseli ingin bicarakan sebelum memberikan informasi atau jawaban
d. Yakinkan bahwa sikap konseli bisa
dijadikan pegangan untuk membantu pemecahan masalah
2.
Interpretasi tes
a. Mengarahkan atau menasehatkan (direct
advising)
b. Persuasi (persuasion)
c. Penjelasan (explanation)
3.
Informasi pekerjaan (Brayfield: 1950)
a. Informasi
b. Penyesuaian kembali
c. Motivasi
Exploration (Eksplorasi). Konselor menggunakan informasi pekerjaan
untuk membantu konseli membuat penelitian yang baik terhadap dunia kerja dari
bidang pekerjaan tersebut.
Assurance (Keyakinan). Konselor menggunakan informasi pekerjaan untuk
meyakinkan konseli pilihan pekerjaannya cocok atau menghilangkan yang tidak
cocok.
Evaluation (Evaluasi). Konselor menggunakan informasi pekerjaan untuk
memeriksa keyakinan dan kesinambungan pengetahuan dari konseli tersebut dan
pemahamannya dari pekerjaan tersebut atau sejenis.
Startle (mengejutkan). Konselor menggunakan informasi pekerjaan
Untuk memeriksa apakah konseli menunjukkan tanda-tanda yakin atau tidak setelah
melalui beberapa hal.
Trait and Factor memiliki tujuan untuk mengajak siswa
(konseling) untuk berfikir mengenai dirinya serta mampu mengembangkan cara-cara
yang dilakukan agar dapat keluar dari masalah yang dihadapinya. TF dimaksudkan
agar siswa mengalami:
1. Self-Clarification / Klarifikasi diri
- Self-Understanding / Pemahaman diri
- Self-Acceptance / Penerimaan diri
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ø Teori Trait & Factor adalah suatu teori
yang berusaha mencocokkan atau menyesuaikan individu dengan suatu okupasi
atau karir tertentu dengan melakukan tes kepribadian atau tes psikologis
sehingga seseorang akan mendapatkan okupasi atau pekerjaan sesuai dengan
kepribadian yang dimilikinya.
Ø Beberapa
tokoh yang sering dikenal dalam teori trait and factor adalah Walter Bigham,
John Darley, Donald G.Paterson dan E.G.Williamson. Dari beberapa pelopor pengembangan
teori Trait & factor ini yang paling terkenal ialah E.G.Williamson.
Ø Menurut
teori trait & factor,
kepribadian merupakan sistem atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang
lainnya seperti kecakapan, minat, sikap dan tempramen. Kekuatan teori ini adalah
mengungkapkan data tentang potensi yang dimiliki individu dengan berbagai
instrumen tes, sehingga data yang didapat cukup valid. Individu juga akan
memperoleh berbagai informasi tentang pekerjaan yang dibutuhkannya. Kelemahan teori ini adalah pilihan pekerjaan yang diberikan pada individu
hanya satu, sehingga akan timbul kesulitan pada individu tersebut seandainya
pekerjaan tersebut tidak diperoleh.
Ø Berdasarkan persoalan karir yang
dialami oleh remaja, teori trait & factor dapat digunakan terhadap semua
kasus yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut: termasuk ragam konseling
jabatan atau konseling akademik (konseling karier), di mana konseli menghadapi
keharusan untuk memilih di antara beberapa alternatif, konseli telah
menyelesaikan minimal jenjang pendidikan SMP dan sudah mulai tampak stabil
dalam berbagai ciri kepribadian, konseli tidak menunjukkan kelemahan serius dalam
beberapa segi kepribadiannya, misalnya selalu ragu-ragu dalam keputusan tentang
apa pun juga atau sangat dikuasai oleh alam perasaannya sendiri. metodenya adalah melaui
tenkik-teknik sebagai berikut diantaranya adalah wawancara, prosedur
interpretasi tes dan menggunakan informasi jabatan/pekerjaan yang selanjutnya
akan disusun untuk membantu menyelesaikan masalah konseli, dan membantu dalam
membuat keputusan karir
Langganan:
Postingan (Atom)
