A. Konsep
penelitian tindakan
Penelitian
tindakan berkaitan erat dengan penelitian kualitatif, karena memang dalam pengumpulan
datanya menggunakan pendekatan kualitatif.
Penelitian
tindakan merupakan suatu pencarian sistematik yang dilaksanakan oleh para
pelaksana program dalam kegiatannya sendiri (dalam pendidikan dilakukan oleh
guru, dosen, kepala sekolah, konselor), dalam mengumpulkan data tentang
pelaksanaan kegiatan, keberhasilan dan hambatan yang di hadapi, untuk kemudian
menyusun rencana dan melakukan kegiatan-kegiatan penyempurnaan. Ada beberapa
perbedaan utama dari penelitian tindakan dengan penelitian biasa.
Perbedaan antara Penelitian
Biasa dengan Penelitian Tindakan
|
APA
|
PENELITIAN
BIASA
|
PENELITIAN
TINDAKAN
|
|
SIAPA
|
Dilakukan
oleh para profesor, ahli, peneliti khusus, mahasiswa terhadap kelompok
khusus, kelompok eksperimental dan kontrol.
|
Dilakukan
oleh para pelaksana kegiatan dalam kegiatan yang menjadi tugasnya.
|
|
DIMANA
|
Dalam
lingkungan dimana variabel dapat dikontrol.
|
Di
dalam lingkungan kerja atau lingkungan tugasnya sendiri.
|
|
BAGAIMANA
|
Mengggunakan
pendekatan kuatitatif, menguji signifikansi statistik, hubungan sebab-akibat
antar variabel.
|
Menggunakan
pendekatan kualitatif menggambarkan apa yang sedang berjalan dan ditujukan
untuk mengetahui dampak dari kegiatan yang dilakukan.
|
|
MENGAPA
|
Menemukan
kesimpulan yang dapat digeneralisasikan
|
Melakukan
tindakan dan mendapatkan hasil positif dari perubahan yang dilakukan dalam
lingkungan kerja atau tugasnya.
|
Penelitian
tindakan menggabunngkan kegiatan penelitian atau pengumpulan data dengan
penggunaan hasil penelitian atau pengumpulan data. Kegiatan ini dilakukan
secara timbal balik membentuk spiral: rencana, tindakan, pengamatan dan
refleksi.
Asusmsi
yang mendasari pelaksanaan penelitian tindakan adalah bahwa orang akan
belajardan mengembangkan pengetahuan:
1) Dalam
pengalaman sendiri yang konkrit
2) Melalui
pengamatan dan refleksi dalam pengalaman tersebut.
3) Melalui
pembentukan konsep abstrak dan generalisasi.
4) Dengan
menguji implikasi konsep dalam situasi baru.
B. Pengertian
PTK
Penelitian
tindakan kelas merupakan salah satu penelitian yang sedang diminati khususnya
oleh para guru karena penelitian ini dapat dilaksanakan tenpa harus
meninggalkan tugas guru sebagai pendidik. Bahkan sebenarnya guru telah
melaksanakan jenis penelitian ini hanya saja mereka beum mendokumentasikannya
secara baik.
Berikut
ini pengertian PTK menurut beberapa ahli:
1. Menurut
Kemmis & Taggart (1988) penelitian tindakan adalah studi yang dilakukan
untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri, tetapi dilaksanakan
secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri.
2. Hopkins
(1993) penelitian tiindakan kelas atau classroom action research merupakan
kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan oleh
sekelompok masyarakat melalui tindakan praktis yang mereka lakukan dan
merefleksi hasil tindakannya.
3. Suwarsih
Madya (1998) penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang
di tunjukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang
dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang
menjadi tanggung jawabnya dan itu disebut “penelitian tindakan kelas” atau PTK.
4. Dalam bahasa Inggris Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
diartikan dengan ClassroomAction Research (CAR). Dari sisi namanya sudah
menunjukkan isi yang terkandung didalamnya. Karena itu Arikunto, dkk (2006), Aqib
(2007), Madya (2006) mengemukakan bahwa ada tiga kata yang membentuk pengertian
tersebut, yaitu (1) penelitian, (2) tindakan, dan (3) kelas. Sehubungan dengan
itu, maka Arikunto dkk (2006) mengartikan penelitian tindakan kelas sebagai
suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang
sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Karena itu
penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan
situasi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
5. Hal tersebut
sejalan dengan Burns, (1999); Kemmis & McTaggrt (1982); Reason &
Bradbury (2001) dalam Madya (2007) yang menjelaskan bahwa penelitian tindakan
merupakan intervensi praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan
situasi praktis. Karena itu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru
ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggung
jawabnya dan ia disebut ”penelitian tindakan kelas” atau PTK. Sehubungan dengan itu, maka pertanyaan yang
muncul adalah ”Kapan seorang guru secara tepat dapat melakukan PTK?” Jawabnya:
Ketika guru ingin meningkatkan kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung
jawabnya dan sekaligus ia ingin melibatkan peserta didiknya dalam proses
pembelajaran. Karena itu,
C. Fungsi
penelitian tindakan kelas
fungsi PTK sebagai alat untuk meningkatkan kualitas
pelaksanaan pembelajaran kelas, yaitu sebagai: (a) alat untuk mengatasi
masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat
pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan 198 Pendidikan dan Latihan
Profesi Guru (PLPG) Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24 Universitas Negeri
Makassar keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri,
khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem
yang ada (secara alami) pendekatan tambahan atau inovatif; (d) alat untuk
meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e) alat
untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik
terhadap pemecahan masalah kelas (Cohen & Manion, dalam Madya, 2007). Hal
tersebut dapat dilakukan oleh guru karena: (1) hasil penelitian tindakan
dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang
menginginkannya; (2) penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang
pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung
diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait; (3) peneliti tindakan (guru)
melakukan sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan.
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan kelas
Tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk
memperbaiki dan meningkatkanpraktik pembelajaran di kelas secara
berkesinambungan. Tujuan ini “melekat” pada diriguru dalam penunaian misi
professional kependidikannya (Aqib, 2007). Hal inimenunjukkan bahwa
sesungguhnya PTK bertujuan untuk memecahkan permasalahan nyatayang terjadi di
dalam kelas. Karena itu menurut Suharjono (2006), tujuan penelitian tindakan kelas
adalah meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, mengatasi masalah pembelajaran,
meningkatkan profesionalisme, dan menumbuhkan budaya akademik.
Sedangkan Arikunto (2006) merinci tujuan PTK, yaitu:
(1) meningkatkan mutu isi, masukan,proses, serta hasil pendidikan dan
pembelajaran di sekolah; (2) membantu guru dan tenaga kependidikan lainna
mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan di luar kelas; (3)
meningkatkan sikap professional pendidik dan tenaga kependidikan; (4) menumbuhkembangkan
budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam
melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka manfaat yang
dapat diperoleh jika guru maudan mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas,
antara lain: (1) inovasi pembelajaran, (2) pengembangan kurikulum di tingkat
sekolah dan di tingkat kelas, dan (3) peningkatanproresionalisme guru (Aqib,
2007).
Sejalan dengan itu, Rustam dan Mundilarto (2004)
mengemukakan manfaat PTK bagiguru, yaitu: (1) Membantu guru memperbaiki mutu
pembelajaran, (2) Meningkatkan profesionalitas guru, (3) Meningkatkan rasa
percaya diri guru, (4) Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan
dan keterampilannya.
E. Karakteristik PTK
Karakteristik
PTK meliputi: (1) dirancang untuk mengatasi permasalahn nyata, (2) diterapkan
secara kontekstual, (3) terarah pada peningkatan kinerja guru di kelas, (4)
bersifat fleksibel, (5) data diperoleh langsung dari pengamatan atas perilaku
dan refleksi, (6) bersifat situasional dan spesifik (Natawidjaya, 1997)
F. Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling
Konsep penelitian tindakan merupakan terjemahan dari
action research, yang secara sederhana diartikan sebagai bentuk penelitian terhadap
suatu tindakan yang telah dilaksanakan sesuai dengan rancangan. Istilah
penelitian mengandung makna sebagai upaya mencermati sesuatu, dalam hal ini suatu
tindakan yang dirancang dan dilaksanakan secara cermat untuk mengatasi suatu
permasalahan yang dihadapi.
Kegiatan penelitian tindakan (action research) pada
awalnya dilakukan di dunia industri, ditujukan untuk memperbaiki kinerja para karyawan
sehingga diharapkan produktivitas meningkat. Proses action research pada seting
industri telah menunjukkan hasil yang luar biasa, yakni meningkatnya kinerja
para karyawan yang disertai dengan peningkatan produktivitas kerjanya. Bertolak
dari keberhasilan ini, gagasan action research diangkat dan diterapkan dalam
dunia pendidikan dengan sebutan classroom action research, yakni suatu penelitian
tindakan (action research) yang dilaksanakan di kelas.
1) Makna penelitian tindakan (action research) dalam
seting pendidikan
dijelaskan oleh McNiff (1991) sebagai berikut: Action
research is a form of self-reflective inquiry undertaken by participants
(teachers, students or principals, for example) in social (including
educational) situations in order to improve the rationality and justice of (1)
their own social or educational practices, (2) their understanding of these practices,
and (3) the situations (and institutions) in which the practices are carried
out.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dirumuskan
beberapa
bebepara ide pokok tentang penelitian tindakan, yaitu
:
1) Penelitian tindakan merupakan suatu bentuk inkuiri
atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri.
2) Penelitian tindakan dilakukanoleh peserta yang
terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa atau kepala sekolah.
3) Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial,
termasuk situasi pendidikan.
4) Tujuan penelitian tindakan adalah untuk memperbaiki
: dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap
praktik tersebut, dan situasi atau lembaha tempat praktik tersebut
dilaksanakan.
Berdasarkan gagasan di atas, maka penelitian tindakan
itu merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri
sebagai metode utamanya, dilakukan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya,
dan bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek (Wardhani, 2008:
1.4).
PTBK adalah suatu penelitiian yang melibatkan peneliti
secara langsung kepada subjek penelitian.
Penelitian tindakan BK ini bertipe tindakan kemitraan atau
penelitiankolaboratif. Kolaboratif yang dilakukan adalah berupa bentuk kerja
sama antara guru pembimbing atau konselor sebagai pelaksana tindakan dan
peneliti dalam hal ini adalah sebagai pengumpul data.
Senada dengan pengertian tersebut, Mills (2000) mendefinisikan
penelitian tindakan sebagai “systematic inquiry” yang dilakukan oleh guru,
kepala sekolah, atau konselor sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang
berbagai praktik yang dilakukannya. Informasi ini digunakan untuk meningkatkan
persepsi serta mengembangkan “reflective practice” yang berdampak positif dalam
berbagai praktik persekolahan, termasuk memperbaiki hail belajar siswa.
(Wardhani, 2008: 1.4).
Mengacu pada pengertian penelitian tindakan di atas,
dapat
dirumuskan makna penelitian tindakan kelas sebagai
penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri, melalui refleksi
diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar
siswa meningkat. Pada seting bimbingan dan konseling,
penelitian tindakan itu dilaksanakan oleh guru pembimbing atau konselor sekolah
di dalam kelasnya (bimbingan dan konseling kelompok atau bimbingan klasikal)
dan secara invidual dengan konseli, melalui refleksi diri sebagai teknik
utamanya, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar
konseli meningkat – yakni timbulnya perubahan perilaku dan pribadi konseli ke
arah yang lebih baik.
2) Karakteristik Penelitian Tindakan Bimbingan dan
Konseling
Berdasarkan makna penelitian tindakan seperti
dipaparkan di atas, dapat dirumuskan karakteristik penelitian tindakan
bimbingan dan konseling sebagai berikut:
1) Merupakan penelitian kolaborasi peneliti dengan
teman sejawat/guru/praktisi pada semua langkah penelitian.
2) Fokus pada pemecahan masalah praktik bimbingan dan
konseling di dalam kelas maupun secara individual.
3) Partisipatori: melibatkan semua pelaksana program
yang akan diperbaiki termasuk subyek penelitian.
4) Pelaksanaan penelitian melalui spiral refleksi diri
(self-reflective) yakni guru pembimbing atau konselor sekolah mengumpulkan data
dari praktiknya sendiri melalui refleksi: mengingat apa yang dikerjakannya di
kelas atau terhadap konseli secara individual, apa dampak tindakan tsb. bagi
konseli, mengapa dampaknya seperti itu, apa kekuatan dan kelemahan tindakan
seperti itu, kemudian mencoba (tindakan) memperbaiki kelemahan itu, dst.
5) Bertujuan untuk memperbaiki proses bimbingan dan
konseling, dilakukan bertahap dan terus-menerus selama kegiatan penelitian dilakukan ada siklus : perencanaan (planning )
tindakan pelaksanaan (acting) pengamatan (observing ) refleksi (reflecting
) revisi (perencanaan ulang tindakan bimbingan dan konseling).
3) Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Bimbingan dan
Konseling
1) Kegiatan penelitian dilakukan dalam situasi rutin
penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di sekolah
2) Dilandasi kesadaran bahwa manusia tidak ada yang
sempurna, sehingga perlu selalu memperbaiki diri.
3) Penelitian dilakukan atas dasar hasil analisis SWOT
terhadap pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
4) Penelitian merupakan upaya pemecahan masalah
berdasarkan pengalaman Guru Pembimbing atau Konselor Sekolah dan bersifat sistemik.
5) Dalam perencanaan penelitian tindakan selalu harus memperhatikan
prinsip SMART.
a) Specific, yaitu permasalahan dan tindakannya khusus
atau tertentu.
b) Managable, yaitu dapat dilaksanakan oleh guru
pembimbing atau konselor sekolah.
c) Acceptable, yaitu dapat diterima oleh khalayak atau
anggota profesi bimbingan dan konseling.
d) Realistic, yaitu terdukung sumber daya yang
tersedia, baik sumber daya manusia (guru pembimbing atau konselor sekolah) maupun
sarana/prasarana.
e) Time-bound, yaitu ada batasan waktu pelaksanaan
kegiatan minimal 2 siklus, lajimnya antara 3 – 5 siklus.
Prinsip PTBK
1.Tidak menganggu komitmen konselor sebgai pendidik.
2.Pengumpulan data tidak menuntut waktu berlebihan
sehingga tidak mengganggu KBM.
3.Metodologi yang digunakan taat azas PTBK.
4.Masalahnya muncul dari guru pembimbing atau konselor
yang paling merisaukan.
5.Konsisten dan peduli terhadap prosedur.
6.Tidak mengenal kelompok eksperimen ataupun kontrol.
4) Langkah-langkah Penelitian Bimbingan dan Konseling
Penelitian tindakan bimbingan dan konseling ditempuh
seperti halnya
penelitian tindakan kelas, yakni dilaksanakan melalui
proses pengkajian berdaur atau bersilus, yang terdiri atas empat tahap, yaitu:
(1) perencanaan (planning), (2) melaksanakan tindakan
(acting), (3)
pengamatan/pengumpulan data (observing), dan (4)
melakukan
refleksi (reflecting), kemudian ada revisi
(perencanaan ulang tindakan bimbingan dan konseling). Revisi ini pada dasarnya
merencanakan kegiatan siklus berikutnya. Hal ini dilakukan dengan mengacu pada hasil
refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan pada siklus terdahulu. Revisi
dilakukan jika ternyata tindakan yang dilakukan belum berhasil memperbaiki
praktik atau memecahkan masalah yang menjadi kerisauan guru pembimbing atau
konselor sekolah. Dalam praktiknya, setiap tahap kegiatan pada siklus
penelitian tindakan dapat terdiri atas atau didahului oleh beberapa langkah
kegiatan. Namun secara operasional, prosedur
perencanaan dan pelaksanaan penelitian tindakan ditempuh dengan empat langkah utama,
yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, (2) menganalisis dan merumuskan masalah,
(3) merencanakan penelitian tindakan, dan (4) melaksanakan penelitian tindakan
(Wardhani, 2008: 2.4). Dalam
penelitian tindakan bimbingan dan konseling, keempat
langkah
tersebut diuraikan sebagai berikut.
1) Identifikasi masalah
Penelitian tindakan bimbingan dan konseling bertolak
dari keresahan yang dirasakan oleh Guru Pembimbing atau Konselor Sekolah
tentang praktik pelayanan bimbingan dan konseling kepada konseli. Apa yang
terjadi ketika Guru melaksanakan praktik pelayanan bimbingan dan konseling ? Pertanyaan
ini merupakan langkah awal atau Refleksi awal dalam suatu proses penelitian tindakan
bimbingan dan konseling. Dari pertanyaan tersebut kemudian berlanjut pada
pertanyaan berikut: Masalah apa yang ditimbulkan oleh kejadian itu ? Apa pengaruh
masalah tersebut terhadap konseli atau kelas (kelompok konseli) ? Apa yang akan
terjadi jika masalah tersebut dibiarkan ? Apa yang dapat dilakukan untuk
mengatasi masalah atau kejadian
tersebut ?Proses identifikasi masalah atau refleksi
awal penelitian tindakan difokuskan pada proses pelayanan bimbingan dan
konseling sesuai dengan bidang layanannya. Identifikasi dapat difokuskan pada empat
pilar layanan bimbingan dan konseling (Ditjen PMPTK Depdiknas, 2007: 40-45),
yaitu meliputi program:
a) pelayanan dasar, mencakup bimbingan klasikal,
pelayanan orientasi, pelayanan informasi, bimbingan kelompok, dan pelayanan
pengumpulan data (apliaksi instrumentasi).
b) Pelayanan responsif, mencakup konseling individual
dan kelompok, referal (rujukan atau alih tangan), kolaborasi dengan guru mata
pelajaran atau wali kelas, kolaborasi dengan orang tua, kolaborasi dengan pihak-pihak
lain di luar sekolah, konsultasi, bimbingan teman sebaya, konferensi kasus, dan
kunjungan rumah.
c) Perencanaan individual, di sini konselor membantu
peserta didik menganalisis kelebihan dan kekurangan dirinya berdasarkan data
atau informasi yang diperoleh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar
maupun karir. Konseli menggunakan informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan
dan karir yang diperolehnya untuk: (1) merumuskan tujuan, dan merencanakan
kegiatan (alternative kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan
yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya, (2) melakukan kegiatan yang
sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3)
mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya. d) Dukungan sistem, mencakup
pengembangan profesi dan manajemen program
2) Analisis dan perumusan masalah
Masalah yang teridentifiksasi selanjutnya dianalisis,
sehingga dapat dirumuskan masalah penelitian tindakan bimbingan secara jelas.
Agar analisis tepat perlu didukung oleh data atau informasi yang memadai,
sehingga guru pembimbing atau konselor sekolah perlu mengkaji ulang berbagai dokumen
yang ada. Proses analisis masalah ini sebenarnya masih kelanjutan dari kegiatan
refleksi, yang lebih difokuskan pada menemukan faktor penyebab dan kemungkinan
upaya/tindakan/pelayanan bimbingan dan konseling yang dapat diterapkan untuk
mengatasinya. Berdasarkan hasil analisis masalah tersebut, kemudian dirumuskan masalah
penelitian tindakan bimbingan dan konseling dalam bentuk pernyataan atau
(seringkali) pertanyaan.
3) Merencanakan penelitian (perbaikan) tindakan
Rencana penelitian tindakan bimbingan dan konseling
disebut juga rencana perbaikan pelayanan bimbingan dan konseling. Rencana perbaikan
yang akan dilakukan sebaiknya dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan. Hipotesis
ini menggambarkan bahwa tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan konseling
yang dipilih tersebut dapat memperbaiki/mengatasi permasalahan yang dihadapi.
Tindakan (perbaikan) yang dipilih dapat berupa strategi, pendekatan, metode atau
teknik-teknik dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Cara perbaikan atau
tindakan pelayanan bimbingan dan konseling tersebut dikembangkan sesuai dengan konsep
teoretis yang mendasarinya, kemampuan dan komitmen guru pembimbing atau
konselor sekolah, karakteristik konseli, sarana dan prasarana sebagai media
pelayanan yang tersedia, dan nuansa pelayanan bimbingan dankonseling di sekolah
tersebut.
4) Melaksanakan penelitian tindakan
Pelaksanaan tindakan (perbaikan) dimulai dengan
mempersiapkan rencana pelayanan dan skenario tindakan/pelayanan bimbingan dan
konseling, serta menyiapkan kelengkapan pendukung yang dapat mempermudah
pelaksanaan, perekaman/pengamatan proses maupun hasil, dan pelaporannya.
5) .Instrumen Observasi dan Evaluasi Tindakan
Bimbingan dan Konseling
Keberhasilan tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan
dan konseling dapat diketahui melalui: (1) hasil pengamatan terhadap kinerja
guru dalam melakuakan tindakan yang dilakukan oleh teman sejawat, (2) perubahan
perilaku konseli selama proses, dan (3) hasil akhir yang ditunjukkan oleh
perubaha perilaku konseli setelah mengikuti proses pelayanan bimbingan dan
konseling. Pengamatan oleh teman sejawat dan tentang kinerja guru/konselor dan
perubahan perilaku konseli selama proses pelayanan menggunakan pedoman
pengamatan; sedangkan hasil akhir tinadakan (perbaikan) pelayanan diperoleh
melalui evaluasi akhir pelayanan bimbingan dan konseling.
6) Evaluasi/refleksi pelaksanaan Tindakan Bimbingan
dan Konseling
Evaluasi atau refleksi pelaksanaan tindakan didasarkan
pada data atau informasai berikut: (1) hasil pengamatan teman sejawat terhadap
kinerja (tindakan) guru pembimbing/konselor, (2) hasil pengamatan perubahan perilaku
konseli selama proses tindakan, dan (3) hasil akhir berupa perubahan perilaku
konseli setelah mengikuti tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan
konseling.
7) Merancang Perbaikan Tindakan Bimbingan dan
Konseling
Kegiatan ini dimaksudkan untuk merancang perbaikan
tindakan bimbingan dan konseling siklus kedua. Tentu saja, rancangan perbaikan tindakannya
sangat bergantung pada hasil evaluasi/rekleksi pelaksanaan tindakan bimbingan
dan konseling pada siklus pertama. Oleh karena itu, rancangan tindakan
(perbaikan) siklus kedua bersifat menyempurnakan rencana tindakan (perbaikan) pelayanan
bimbingan dan konseling siklus pertama.
Daftra pustaka
Arikunto, Suharsimi dkk.2006. Penelitian Tindakan
Kelas. Bumi Aksara. Jakarta.
Aswandi. 2006. Guru Sebagai Peneliti.
http://www.pontianakpost.com/. Diakses, 15
Nopember 2007.
Aqib, Zainal.2007. Penelitian Tindakan Kelas. YRama
Widya. Bandung.
Madya, Suwarsih. 2006. Teori dan Praktek Penelitian
Tindakan Kelas (Action Research). Alfabeta.
Bandung.
Andayani dkk. (2008). Pemantapan Kepampuan
Profesional. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Ditjen PMPTK Depsiknas. (2008). Rambu-rambu
Penyelenggaraan Bimbingan
dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta:
Depdiknas.
Mills, G.E. (2000). Action Research: A Guide for the
Teacher Reseascher.
Columbus: Merrill, An Imprint of Prentice-Hall.
McNiff, J. (1991). Action Research: Principles and
Practice. London:
Macmillan.
McNiff, J. & Whitehead, J. (2006). All You Need
Know About Action Research.
London: Sage Publication.
Raka Joni, T., Kardiawarman, dan Hadisubroto, T.
(1998). Penelitian Tindakan
.

0 komentar:
Posting Komentar